Namaku Vio






     Dokumen google

Namaku Vio

     "Masih belum pulang?" sapa Restu kepada Vio yang sedang duduk di lobi kantor. Vio menoleh melihat Restu. 

"Belum," jawabnya pendek. 

"Ada yang ditunggu,?" tanya Restu lagi. Vio mengangguk cepat. 

"Oke aku duluan ya," kata Restu beranjak pergi. Vio tersenyum dan kembali melihat layar handphonenya. Sebuah sepeda motor dan pengendara yang berseragam hijau berhenti. Vio bergegas menghampiri dan segera duduk di belakang pengendara tadi. Mereka melesat membelah ramainya jalan raya.

    Pak Hendra menatap lurus kepada Vio. Laporan yang ia buat kurang memuaskan. Sehingga beberapa kali Pak Hendra mendengus keras. Vio gugup , ia terdiam menunggu amarah dari Pak Hendra..

    "Perbaiki laporannya, aku tunggu jam sebelas," kata Pak Hendra menahan marah. Plong perasaan Vio. Ia keluar menuju meja kerjanya. Beberapa teman memperhatikan dan berbisik pelan. Vio tidak membalas sedikitpun. Ia segera menyalakan PC di depannya. Jam diding menunjukkan pukul 10.35 berarti ia hanya punya 25 menit saja untuk memperbaiki laporan itu. Handphoneya berdering, ia melirik kemudian mematikannya. 

    Vio meluruskan badannya di tempat tidur. Punggungnya terasa sakit setelah mengerjakan tugas kantor yang lumayan banyak. Meski ia berusaha keras dan belajar cepat untuk memahami laporan yang harus ia buat. Tapi tetap saja ia merasa kebingungan. Ia bersyukur ada Restu tempatnya bertanya. 

    Sebuah mobil berhenti di tempat Vio berdiri. Seorang laki-laki keluar dari mobil itu.

"Aku antar pulang ya, awas gak usah nolak atau beralasan," ancam Restu.sambil membukakan pintu mobil.Viopun tersenyum lalu duduk di samping Restu. 

    Tak perlu waktu lama Restu mampu menaklukkan hati Vio. Gadis cantik itu kini menjadi miliknya. Meski Ia belum mengenal lebih jauh siapa Vio, Restu seolah yakin Vio seperti gadis-gadis yang pernah diajak kencan sebelumnya.  Restu selalu berusaha  ada saat Vio membutuhkannya. 

"Pulang kerja kita jalan yuk," pinta Restu. 

"Ke tempat biasa,? Vio bertanya balik. 

"Bukan, ada tempat spesial untuk kita," rayu Restu dengan manisnya. Vio hanya mengerling pasti.

    Mobil membawa mereka perlahan meninggalkan pusat kota. Restu menghentikan mobil di depan sebuah vila yang lumayan terpencil , jauh dari vila-vila di bukit itu. Restu melihat raut wajah Vio. Dilihatnya wajah Vio yang tenang sambil mengunyah permen karetnya, dalam hati Restu tersenyum , ia berpikir segera melewati malam yang indah dengan Vio. Gadis yang menjadi incaran laki-laki di kantornya. Malam ini ia ingin membuktikan bahwa ia juarannya. 

    Pintu vila terbuka, sebuah ruang tamu cantik dan wangi sudah dipersiapkan Restu. Vio menjadi tersanjung . Ia berkeliling melihat semua ruang dan sekitar vila. Restu dengan bangga menjelaskan bahwa vila itu adalah hasil kerjanya selama 3 tahun, Vio tersenyum mendengar semua penjelasan Restu. Tiba-tiba langkah Vio berhenti pada sebuah foto usang yang terjatuh di lantai belakang vila. Ia melihat dengan teliti. Restu memeluk dari belakang dan mengambil foto dari tangan Vio. 

"Ini foto ayahku, kata Restu di telinga Vio. 

"Jangan sembarangan menaruh, apalagi membuang foto orang tua kita," tegur Vio sambil membalikkan badan. Restu memelukknya erat. Vio hanya diam untuk beberapa saat. Matanya menatap lekat pada Restu. Seolah mencari jawaban tentang foto yang baru ia temukan. 

"Kamar mandinya mana,?" tanya Vio 

"O kamu lebih senang di kamar mandi?" tanya Restu nakal. Vio menjentikkan jemari ke hidung Restu.

Vio menutup erat pintu kamar mandi, ia menempelkan permen karet di balik cermin berbentuk oval. Begitu keluar kamar mandi Restu sudah menyongsongnya. Vio berjalan dengan tenang saat Restu membimbingya ke kamar. Dengan nasfsu membara Restu mulai menciumi tubuh Vio dari belakang. Vio berusaha mengimbangi. Saat Restu lengah, tiba-tiba Vio berbalik dan "braak".... ia memukul keras rahang Restu dari bawah ke samping kanan. Restu tersentak kaget , ia jatuh terhuyung dengan keras kepalanya membentur meja rias. Badanya jatuh ke lantai dan pingsan. Vio segera lari ke ruang tamu untuk membukaan pintu. Beberapa orang bersenjata memasuki kamar dan mengangkat tubuh Restu keluar. Vio mengambil alat pelacak yang ia tempel di cermin kamar mandi, kemudian segera masuk ke mobil yang telah menunggunya.

    Di sebuah ruangan dengan meja besar Restu di dudukkan. Seorang petugas membuka penutup mata. Restu membuka mata dan melihat ke sekelilingnya. Nampak 4 laki-laki dan seorang perempuan berseragam lengkap duduk di depannya. Restu tersentak kaget seperti petir di siang bolong begitu matanya tertuju pada perempuan cantik didepannya. tak berkedip matanya menatap tajam . 

" Namaku Vio , aku bekerja di bawah departemen intelejen negara , tugasku sebagai intel kata Vio tegas ke arah Restu. Penjelasan Vio menambah detak jantungnya berdegup kencang. 

 Terungkap sudah siapa Restu, seorang terduga pembunuhan berantai 5 perempuan muda di beberapa daerah. Ia merubah wajah di luar negeri  sehingga sulit dikenali . Kepolisian melibatkan interpol untuk menangani kasus ini. Kepolisian  menugaskan Vio sebagai intel yang bekerja di kantor Restu. Butuh waktu tiga bulan bagi Vio untuk meyakinkan bahwa Restu adalah Margono , sang residivis. Wajah bisa dirubah tapi sidik jari yang menempel di pipi dan baju Vio tetap asli. 

    Restu terdiam membisu saat semua bukti terpapar di depannya. Ia sungguh tak menyangka Vio gadis cantik lemah-lembut berhasil mengecohnya. Tapi otaknya berpikir keras cara melarikan diri. Tuntutan pidana mati di depan mata. Restu termangu diam. Petugas membawa restu melewati lorong menuju mobil tahanan. Restu melihat kesempatan untuk lari. Ia berbalik melayangkan tangan yang terborgol ke arah kepala penjaga di kanan kirinya . Dua penjaga itu jatuh tetjengkang sekuat tenaga Restu berlari . Saat ia melompat tiba-tiba " dor...dor" dua timah panas mengenai kaki dan pahanya kirinya. Darah mengucur deras . Restu masih berusaha berlari. " Dor...tembakan ini melumpuhkan kakinya kanannya. Sebelum pingsan terngiang di telinga Restu...

" Namaku Vio, aku seorang intel ...dan dunia menjadi gelap.



"


2 Komentar

Lebih baru Lebih lama