Pulang
Pulang itulah kata yang selalu ada di hati
Surya. Empat tahun sudah ia merantau , rasa kangen kepada ayah dan kakaknya tak
terbendung lagi . Surya masih mengingat dengan jelas, saat kepergiannya empat tahun
yang lalu. Dengan diantar Surti, satu-satunya saudara perempuan yang selalu
membantunya. Sepeda motor bebek tua melaju pelan menuju terminal . Selalu rajin
solat, dimanapun kau berada, pesan Surti. Surya mengangguk perlahan. Langkahnya
mantap menuju Bus yang akan membawanya ke Riau menyusul Rustam teman sekampung
yang sudah lama merantau disana.
Surip mengayunkan sabitnya,
untuk memotong bilah-,bilah pelepah sawit yang sudah tua. Bilah - bilah itu
dikumpulkan pada tempat yang telah disediakan . Setelah pekerjaan memotong
pelepah sawit, ia mulai membersihkan rumput dan tanaman liar yang dianggap
mengganggu tanaman sawit. Ia bekerja bersama lima orang karyawan yang
bertugas di bagian menjaga kebersihan lahan sawit .
"Jadi kamu akan
pulang kampung Sur?" tanya Rustam
"Iya, aku kangen mereka,
janjiku meminang Hasnah akan aku tepati " jawab Surya sambil tersenyum.
"Ha ha ha, beruntunglah
Hasnah dapat suami seperti kamu, pekerja keras dan setia," kata Rustam.
" Ah biasa saja, pemuda
kampung sepertiku, harus bersyukur punya calon istri seperti Hasnah, dia
mandiri dan sederhana," jawab Surya merendah.
"Kamu sendiri," tanya
Surip
"Entahlah, uangku sudah aku
kirimkan semua, karena anakku sakit," sahut Rustam pelan.
Surya memasukkan barang-barang yang akan
dibawanya pulang. Satu koper penuh telah terisi. Rustam datang sambil membawa
tas jinjing biru berisi boneka dan dan satu pak permen coklat.
"Sur, aku cuma titip ini,
tolong kasih anakku semoga cepet pulih bisa sekolah lagi," kata Rustam.
Surya mengangguk pasti.
Pelabuhan Merak benar-benar sibuk. Beberapa
kapal penyeberangan antri untuk melempar sauh berlabuh di dermaga. Begitu juga
kapal yang ditumpangi Surya. Setelah beberapa saat menunggu antrian akhirnya
bisa berlabuh. Cuaca di pantai cukup mendukung. Ombak yang landai membuat kapal
berlabuh dengan baiksehingga penumpang serta kendaraan turun dengan nyaman dari
lambung kapal. Bis yang ditumpangi Surya perlahan melaju meninggalkan pelabuhan
Merak menuju terminal Solo sebagai tujuan terakhir. Beberapa pesan masuk di WA
Surya. Ia segera membacanya. Pesan dari Surti yang menanyakan perkiraan sampai
di terminal Solo. Surya pun membalasnya. Surya melihat sekilas tas jinjing yang
berisi boneka , ia memastikan letakknya agar titipan Rustam baik-baik saja. Bis
memasuki tol trans Jawa. Pak supir meningkatkan kecepatan bus. Surya duduk
tenang dengan menyandarkan kepala. Sesekali ia tersenyum sendiri sambil
membalas chat dari Hasnah, perempuan yang akan dipersuntingnya. Surya
mengeluarkan kotak kecil dari saku jaketnya. Setelah kotak kecil itu dibuka,
nampaklah sepasang cincin di dalamnya. Surya mengambil gambar cincin itu lalu
mengirimkan kepada Hasnah. Sesaat kemudian balasan emoticon terkejut dan gembira dari Hasnah
muncul di WA Surya.Surya memasukkan kembali kotak kecil ke dalam saku jaketnya
dan menutup resleting dengan benar. Surya melihat angka 12.30 , sekitar tiga
puluh menit lagi bis akan memasuki kota Solo. Sebuah panggilan masuk terdengar.
“Sur... aku dan Kang Arif yang jemput, kami pinjam pick up
perusahaan,” kata Surti dari seberang.
“Sebenarnya aku bisa pesan gojek atau grab, gak usah
repot,” jawab Surya.
“Eh ini anak, Kang Arif sekalian ke kota mengantar
barang,”
“Ya gak papa kalau gitu,” jawab Surya. " Blaarrr....Tiba-tiba terdengar
suara letusan keras.
“Apa
itu Sur,” teriak Surti kaget. Bus terguncang hebat. Handphone yang dipegang
Surya terjatuh. Surya meraih tas jinjing dan berusaha memegang erat kursi bis didepannya. Sopir
bus tidak bisa mengendalikan laju bus, para penumpang panik berteriak histeris.
Sopir berusaha mengambil arah kiri, tapi karena laju yang kencang, bis itu menabrak
bagian kanan sebuah mini bus, pembatas dan berguling hingga berhenti. Surya
merasakan sakit di dadanya, tiba-tiba pandangannya kabur. Setelah mendengar
bunyi letusan Surti merasa gelisah.
Beberapa kali ia melakukan panggilan kepada Surya tetapi tidak diangkat. Surti
meminta Suaminya bergegas menuju terminal Tirtonadi. Seperti disambar geledek. Saat
ia mendengar bahwa bus yang ditumpangi Surya mengalami pecah ban dan terguling.
Baginya langit serasa runtuh.
Suara
sirine meraung-raung memasuki rumah sakit Oen Kandang Sapi Solo. Ambulan silih berganti
menurunkan pasien. Surti dan suaminya melihat dengan teliti setiap pasien yang diturunkan
dari ambulan. Mereka berharap Surya salah satu pasian yang selamat dari
kecelakaan maut itu. Arif menggenggam erat Surti agar ia kuat dan tidak
pingsan. Surti berteriak saat ia melihat wajah Surya diturunkan dari salah satu
ambulan. Arif membantu perawat mendorong ke ruang UGD. Kini mereka melihat dari
kejauhan saat para medis berusaha keras memasang alat bantu pernapasan juga
alat tranfusi darah. Surya masih pingsan, tangannya memegang erat tas jinjing
saat dikeluarkan dari bus. Surti tak bisa membendung tangisnya, sedu sedanya
terdengar jelas meratapi kesakitan yang dirasakan Surya. Beberapa saat kemudian Hasnah dan keluarganya
berdatangan. Surya mengalami luka dalam yang serius beberapa tulang rusuknya
patah. Setelah sadar, Surya akan dibawa ke ruang operasi. Jaket yang dikenakan dipegang erat Surti. Surti membuka kantong
jaket dan menemukan cincin yang akan dipake melamar Hasnah.
“Hasnah
coba kau lihat, ia sudah siap melamarmu,” kata Surti pelan. Hasnah menjawab
dengan anggukan. Bulir air mata tak berhenti mengalir sejak ia mendengar berita
kecelakaan Surya. Hasnah memegang sebentar cincin itu lalu mengembalikan kepada
Surti.Seorang petugas medis menghampiri mereka. Meminta perwakilan keluarga
masuk ruang operasi. Surti dan Arif mengikuti petugas medis memasuki ruang
operasi. menurut perawat operasi belum dimulai, mendadak kondisi Surya menurun. Begitu melihat Surti, Surya berusaha
tersenyum.
“Tas...tas
katanya perlahan. Surti segera tanggap, ia mengambil tas jinjing .
“Rustam,
“ kata Surya lagi. Surti mengangguk
“Maaf
, kata Surya lebih pelan nyaris tak terdengar. Surti mendekat, sedangkan Arif membisikkan lafas
Allah..Allah berulangkali ditelinga Surya. Surya berusaha mengikuti hingga
terdengar bunyi tiiiiiiit dari alat perekam jantung. Surti tak mampu menguasai
perasaanya. Ia limbung hampir pingsan. Arif membimbingya keluar.
Satu-persatu peziarah meninggalkan pemakaman.
Kini tinggal keluarga Surti dan Hasnah. Hasnah duduk bersimpuh, sesekali
memegang tanah gundukan yang masih tertutup bunga.
“Kau telah benar-benar pulang Kang, tapi bukan untukku,tapi
untuk almarhumah ibumu,” bisik Hasnah. Perlahan ia berdiri dan pamit. Diiringi
kedua keluarga itu meninggalkan pemakaman.
Keren bu..mantap
BalasHapusTrima kasih 🙏🏻
HapusMantaaaabbb sekali
BalasHapus