Pujaan Hati


  
                      
                                      Dokumen google

 Pujaan Hati

    Astri membelokkan sepeda motornya ke warung nasi Mbok Janah. Setelah memarkir sepeda ia segera beranjak memasuki warung itu. Pengunjung warung mulai berkurang. Astri sengaja memilih setelah jam makan siang. Ia sangat hafal jika berbarengan dengan jam makan para karyawan sudah pasti ia harus rela berdiri atau mengantri lama. Astri duduk di teras warung yang berhadapan langsung dengan jalan . Suasana jalanan seperti biasa, lalu lintas tenang dan lancar. Tanpa sengaja Astri melihat sebuah mobil hitam yang berhenti . Jendela mobil dibuka , tampak seorang pemuda bercakap -cakap. Seorang lelaki keluar dari mobil dan menuju warung Mbok Janah. Asti melihat kearah pemuda yang berada di dalam mobil  tadi. Pemuda itu tersenyum . Astri menoleh ke kanan, kiri dan belakang . Tetapi tak seorangpun didekatnya. Ia kembali melihat pemuda tadi, lagi-lagi pemuda itu  tersenyum dan mengangguk sopan. Astri sepontan membalas senyumnya. Lelaki keluar dari warung dan memasuki mobil. Pemuda tampan melambaikan tangan ke arah Asti. Asti merasa tersanjung, iapun membalas dengan melambaikan jemarinya. 

    Entah sudah berapa kali Astri memejamkan mata. Ia berusaha tidur secepatnya. Ia ingin tampil prima saat presentasi besok pagi, agar para dosen pembimbing terkesan. Tiba-tiba ia ingat peristiwa siang tadi. Astri merasa sangat bodoh, mengapa pertemuan dengan pemuda tampan tadi tidak diabadikan dengan kamera.  Angannya melayang-layang pada pemuda yang mirip opa Korea demikian Astri menyebutnya. Ia berandai- andai jika bertemu lagi. 

    Lampu mobil di depan  Astri tiba-tiba meredup. Sejenak kemudian pintu mobil dibuka seorang pemuda tampan keluar dengan senyum manisnya. Oh my God betul- betul opa Korea pekik Astri dalam hati. Ia berdiri mematung tak jauh dari mobil itu. Kakinya enggan beranjak. Tiba-tiba opa Korea menoleh kepadanya. Senyum semanis gulali telah Astri  siapkan. Untuk beberapa saat mereka beradu pandang . Opa Korea menghampirinya. Astri mendadak grogi parah  dibuatnya, tetapi sekuat tenaga ia berusaha menguasai keadaan . Senyum manisnya tetap bertahan tersungging di bibirnya. Opa Korea mengangkat tangan memberi kode ajakan kepada Astri untuk ikut masuk ke sebuah gedung. Bagaikan mendapat tarikan magnet yang sangat kuat Astri dengan senang mengangguk mengiyakan. Kini Astri berjalan perlahan disamping opa Korea. Sesekali mereka beradu pandang dan melempar senyum . Opa Korea berjalan santai , kaki panjangnya melangkah ringan. Beberapa karyawan menyambut dan mengajak opa Korea ke sebuah ruangan . Opa korea menoleh kearah Astri. Ia memberi kode agar menunnggu di lobi. Astri tersenyum dan mengangguk setuju. Astri duduk di ruang yang hemat warna. Dindingya putih salju, jendela besar dan sofa dengan warna abu-abu. Untuk membuang rasa jemu menunggu ia mengambil sebuah majalah yang tersedia di pojok ruangan. Beberapa saat kemudian opa Korea menghampirinya. Sambil duduk ia menjulurkan tangan , tak jelas kata yang diucapkan . Tiba-tiba gedubrak.... sebuah benda jatuh. Astri segera terbangun dari mimpinya. Sambil mengambil laporan presentasi yang jatuh di lantai , ia bergumam sendiri.  Oh ya Tuhan, ijinkan aku mimpi bertemu denganya lagi ...atau ubahlah  menjadi kenyataan untukku ,doa Astri sambil memejamkan mata. 

          Presentasi berjalan lancar. Astri menjawab semua pertanyaan dosen dengan tenang. Ia tinggal menunggu hasil presentasi saja. Astri kembali duduk di kursi, sesekali melihat  temannya yang mendapat giliran presentasi. Astri mengambil selembar kertas, ia menggambar wajah seseorang yang bertengger dalam mimpinya semalam.  Astri merasa heran dengan perasaannya sendiri. Mengapa ia begitu penasaran dengan pemuda yang disebutnya opa Korea.

          “Win kamu  pernah gak pingiin ketemu cowok yang baru kenal,? Tanya Astri saat pulang kuliah.

          “Ya gak lah kan baru kenal,” jawab Wini santai.

          “Kenapa emang,” tanya Wini

          “Enggak ..gak papa cuma tanya saja,” jawab Astri

         “Bener...atau  kamu sedang pdkt?” selidik Wini

          “Nggak sih , cuma penasaran aja,” sahut Astri

          “Penasaran itu masih saudara ama jatuh cinta kayaknya,” sela Wina sambil terkekeh.

          “Ceritanya gimana sih kok bisa penasaran pake banget ?” tanya Wini. Astri bercerita pertemuan yang tidak sengaja di warung Mbok Janah. Wini mendengar dengan manggut-manggut seolah memahami benar cerita Astri.

          “Sepertinya  kamu bukan sekedar jatuh cinta deh As, lebih tepatnya terobsesi,”

          “Lebih berbahaya sih kalau gak segera bertemu, itu.. tu rasanya seperti  mencintai bayangan..gak enak banget kan,” sambung Wini.

          “Trus aku harus gimana dong,” pinta Astri

          “Ya kamu harus berhenti memikirkanya,” saran Wini santai.

          “Iiih ..gak bisa , malah aku sering mimpiin dia,” kata Astri memelas

          “Aduuh Astri, kamu ga tau namanya, alamatnya , bahkan foto aja ga punya, trus aku mau nolong gimana, diterawang..? aku mah buka dukun.”sungut Wini.

          “Biasanya kamu cerdas, giliran jatuh cinta kok jadi bego amat sih,”sambung Wini. Untuk beberapa saat mereka terdiam. Tapi dalam hati Wini merasa kasihan terhadap Astri, sekalinya jatuh cinta sama pemuda bayangan. Astri menunjukkan gambar yang ia buat. Wini melihat sambil mengeryitkan alis.

          “Kamu bilang dia mirip opa Korea, ni gambarmu malah mirip warga Konoha emh apa tu..hukage ya,” celetuk Wini . Astri merebut kertas dengan merengut. Wini tersenyum geli dibuatnya. 

          Seperti biasa Astri duduk di teras warung Mbok Janah. Ia berharap opa Korea berhenti di depan warung seperti dulu. Jika opa Korea datang ia akan mencoba berkenalan. Puluhan -menit berlalu. Tapi mobil yang membawa opa Korea tak pernah muncul. Astri menuju tempar parkir, dan segera  berlalu dari tempat itu. Astri menjalankan sepeda motornya dengan pelan. Lalu-lintas sore ini sangat bersahabat pikir Astri. Sesekali ia melihat ke arah spion. Tiba-tiba ia melihat bayangan mobil serta laki-laki yang pernah ia lihat di warung Mbok Janah dari kaca spion. Astri segera menepi dan memberi jalan agar mobil berada di depannya. Kini posisi Astri persis di belakang mobil hitam itu. Ia mengikuti kemanapun mobil bergerak. Hingga mobil hitam menyalakan lampu sen ke kiri . Mobil itu memasuki sebuah kantor pemerintah. Astri ragu-ragu mengikutinya. Ia memilih berada di luar pagar kantor itu. Astri melihat sekeliling , ia agak terkejut kini ia berada di kantor kepolisian Diambilnya handphone untuk memastikan orang yang keluar dari mobil adalah opa Korea. Pintu mobil hitam itu terbuka,  dan benar saja opa Korea keluar dari mobil . Asti segera mengambil gambar peristiwa itu. Ia menghubungi Wini, agar datang ke tempatnya sekarang. Selang beberapa menit Wini muncul. Dengan wajah penuh tanya ia menghampiri Astri.

    "Heh, kenapa gak masuk, katanya opa Korea baru nyampe di kantor ?"

   ''Eee gak enak aku, sahut Astri

    ''Trus ngapain di sini, ..ayo masuk?" ajak Wini. Berdua mereka memasuki halaman kantor, dan memarkirkan sepeda motor di tepi halaman. Petugas menerima mereka dengan sopan.

"Jadi.. mbak-mbak ini mau bertemu siapa,?" tanya petugas.

    ''Gini pak saya mau tanya, itu yang barusan turun dari mobil dan dikawal siapa ya?" tanya Asti. Di hatinya  berharap opa Korea adalah salah satu orang penting di dinas kepolisian yang sedang bertugas. 

    O itu... kenapa mbak , apa pernah berurusan dengan orang tadi, kalau ada mohon mbak buat pengaduan di kepolisian dahulu,"

" Oh nggak pak, saya cuma ingin tahu saja, karena hanya melihat sesekali di jalan," jawab Astri perlahan.

    "Heemh gitu, untung deh mbak , ketemunya di sini,"kata petugas tersenyum lebar. Membuat Astri dan Wini bertanya-tanya. 

    "Maksudnya gimana sih pak," tanya mereka serempak karena penasaran.

    "Orang tadi bernama Jefri alias Jay, saat ini dia adalah tahanan kami, atas kasus perdagangan manusia dan kasus pencucian uang. Polisi masih mengumpulkan bukti-bukti lain. Jaringan kerjanya luas hingga kami betul-betul hati-hati . Jadi agar tidak melarikan diri dia dikawal. Supaya tidak terlihat maka kami memakai pakaian biasa," kata petugas itu . Bagai disambar petir ..lemas kaki Astri mendengar penjelasan petugas di depannya. Tak pernah membayangkan opa Korea pujaanya adalah seorang tahanan . 

    "Baik pak terima kasih atas informasinya, kami mau pamit dulu," kata Wini sambil menyentuh kaki Astri . Reflek Astri beranjak dari tempat duduknya. 

    "Hati-hati mbak, wajah ganteng dan badan bagus belum jaminan ia orang baik-baik," nasehat petugas kepada Astri dan Wini. Astri mengangguk lesu. Buyar sudah bayangan si opa Korea.




 

 



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama