Deadline

Pentigraf

                                                       Dokumen google


Deadline

Katrin tersenyum lega, namanya mulai dikenal. Semua itu karena banyak tulisannya dimuat di beberapa majalah remaja. Tulisan yang ringan dan ulasan yang lugas menjadi ciri khasnya. Ia juga blogger muda yang aktif di media elektronik. Tiap dua hari sekali tulisannya muncul di media elektronik, dan mendapat respon dengan komentar-komentar yang sangat baik dari para pembaca.  Pundi-pundi rupiahpun mulai terisi.

Katrin mendapat kabar, sebuah penerbit nasional mengadakan lomba menulis esai dengan hadiah yang lumayan menggiurkan, sayangnya deadline tinggal satu hari saja. Katrin merasa tertantang. Ia yakin mampu menyelesaikannya dalam waktu sehari. Ia segera mengambil pulpen untuk menulis poin-poin yang akan dibuat esai. Kemudian ia mengetik  dengan lancar semua ide dan kalimat mengalir keluar begitu saja dari benaknya dan tertuang pada baris-baris kalimat yang tersusun di layar putih pada laptopnya. Terbayang sosok perempuan yang sangat dikagumi,  dicintai sekaligus dihormati . Perempuan yang dengan sabar mendidiknya, merawat, serta tempatnya berkeluh kesah. Setiap Katrin punya masalah, perempuan ini selalu menjadi tempat mengadu. Perempuan itu mendengar dengan penuh perhatian serta sabar hingga Katrin selesai bercerita. Perempuan itu tak lain adalah ibunya.

“Ayo bangun, kenapa tertidur di depan laptop?” suara itu membangunkan Katrin . Ia terperanjat. Melihat tulisan di layarnya lenyap. Terhapus saat kepalanya terkulai menekan tombol delet. Katrin berteriak histeris, sejenak kemudian terduduk lemas.  

 

2 Komentar

  1. Yaa....g jadi ikut lomba doong si Katrin...

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar sekali ... he he makasih telah membaca

      Hapus
Lebih baru Lebih lama