Dokumen google
Legenda Desa Jurang Sapi
Karya : Lilik Herawati
Penduduk desa sedang merayakan kemenangan kepala desa. Pak Saman terpilih menjadi kepala desa itu.. Di rumah Pak Saman banyak sekali masyarakat dan tamu dari luar desa yang datang. Para pramusaji hilir mudik menyajikan hidangan. Pak Saman didampingi para perangkat desa berdiri untuk memberi sambutan kemenangannya. Para tamu terlihat mengangguk-angguk mendengar sambutan singkat dari Pak Saman.
Semenjak Pak Saman menjadi kepala desa, banyak terjadi perubahan. Nasib para petani menjadi lebih baik. Bantuan bibit tanaman yang unggul diberikan. Pupuk yang biasanya dikeluhkan petani , sekarang selalu tersedia. Panen padi dan palawijapun meningkat. Jalan - jalan diperbaiki sehingga memudahkan penduduk untuk bepergian atau menjual hasil pertaniannya. Peternakan lebih pesat lagi. Rata-rata penduduk desa memelihara dua hingga 4 ekor sapi. Disamping itu puluhan peternak ayam dan kambing selalu bertambah tiap bulan.
Kemakmuran desa itu terkenal sampai ke desa-desa sekitar desa itu. Hingga kese jahteraan dan kemakmuran penduduknya terdengar oleh Gali. Gali adalah ketua perampok yang tinggal di suatu bukit . Ia tinggal dibukit itu bersama beberapa orang anak buahnya. Pekerjaan mereka mencuri dan memeras pada penduduk yang tinggal disekitar bukit
Pada malam itu Gali dan anak buahnya mengendap-endap ke rumah penduduk untuk mencuri sapi. Entah ilmu apa yang dimiliki saat mencuri, sapi diam tak bersuara. Sapi itu dituntun ke tempat persembuyian mereka .Pagi hari warga yang kehilangan sapi melapor ke kepala desa. Perangkat desa dibuat heran , bagaimana mungkin sapi keluar kandang tanpa suara sama sekali.
Pak Saman sedang berdiri di depan para perangkat desa. Ia mengadakan rapat membahas cara menangkap pencuri sapi. Para perangkat desa nampak sangat serius mendengar penjelasan Pak Saman . Malam hari rencana dijalankan. Tiap pojok kampung ada petugas ronda yang berjaga . Mereka terdiri dari empat orang penduduk lali-laki. Pak Jamil, Roman, Sawung dan Ranu berjaga malam itu. Mereka berempat bercakap-cakap santai. Pak Jamil merasa ngatuk tak berapa lama ia tertidur pulas. Roman, Sawung dan Ranu tetap berjaga. Tetapi ketiganyapun tak kuat menahan kantuk. Akhirnya merekapun ikut tertidur seperti Pak Roman.
Pagi hari penduduk dibuat geger lagi karena ada tiga ekor sapi penduduk hilang. Pak Saman merasa sangat kesal dan marah. Iapun meminta bantuan aparat untuk menangani kasus pencurian sapi di desanya. Aparat dan penduduk dikerahkan untum mencari sapi-sapi yang dicuri ke pasar-pasar. Karena diperkirakan sapi-sapi itu sudah diperjualbelikan oleh pencuri. Tapi pencarian inipun nihil tak ada hasil. Pak Saman , aparat dan penduduk desa berniat menyisir semua daerah di sekitar desa. Penyisiran itu dimulai dini hari. Mereka terbagi menjadi sembilan rombonngan. Setian rombongan terdiri dari sepuluh orang aparat dan penduduk desa. Sampailah penyisiran mereka mengepung sebuah bukit yang terjal dengan jurang di sampingnya. Rombongan Pak Saman mendengar suara sapi dari kejauhan. Mereka semakin mendekat. Tampaklah rumah-rumah di atasnya . Pak Saman membunyikan peluit panjang. Suara peluit terdengar melengking di seluruh penjuru. Semua rombongan segera mengepung tempat itu. Para perempok nampat tidak siap. Merekapun tak sempat melarikan diri. Para aparat segera menangkap kepala perampok. Pak Saman memaksa mereka menunjukkan tempat sapi-sapi yang telah mereka curi. Dengan tangan gemetar Gali kepala perampok menunjukkan tempat di samping bukit. Rombongan kedua menuju tempat yang ditunjuk. Mereka melihat puluhan sapi di bawah sana, kemudian mereka berteriak -teriak
" Sapi di jurang...sapi di jurang...sapi di jurang" teriak mereka berulang kali. Sapi-sapi itupun dituntun keatas . Kemudian diserahkan kembali ke penduduk desa. Dan hingga sekarang terkenalah desa tersebut dengan nama Desa Jurang Sapi