Dokumen google
Gaun Pengantin
Suara sepeda motor berhenti di depan rumah
Risa. Seorang kurir berseragam hijau turun dari sepeda motor sambil membawa
sebuah paket. Risa yang sedang duduk di dalam galeri segera membuka pintu.
Kurir mengulurkan sebuah paket yang dengan jelas tertera nama Marisa Danu ,alamatnnya
Galeri Marisda . Paket itu berisi kain
sutra. Risa dibuat bingung karena tidak merasa memesan barang apalagi
membeli kain sutra yang jelas-jelas harganya mahal. Kurir menjelaskan bahwa
paket sudah berbayar . Kurir itupun memberikan nomor handphone pemesan. Setelah
kurir pergi, Risa segera menghubungi nomor handphone tersebut.. Beberapa kali
nada tersambung tapi tidak diangkat. Panggilan ke-duapun zonk. Nada sambung
terhubung saat Risa melakukan panggilan ketiga kalinya.
"Halo,
"Ya...halo " suara riang seorang perempuan dari seberang.
"Saya Risa, seorang kurir memberi nomor
handphone anda juga paket berisi kain, maaf anda siapa ya?"
"Aduuuh masa nggak inget, ini aku temanmu
saat SMP, hemh sudah jadi desainer kamu Ris,"
Risa hanya bengong, dan berpikir keras siapa-siapa saja teman saat
di SMP. Tapi tetap tak merujuk ke satu namapun.
"Oh ya siapa ya aku benar-benar lupa,
diprofil itu foto suami kamu kan, he he" kata Risa beralasan.
"Oke deh aku mau ngaku, aku Flora,"
jawab temannya. Beberapa detik ingatan Risa terbang ke masa lalu. Dia ingat
sekarang, Flora adalah teman sebangkunya saat kelas 3 SMP. Kabar terakhir Flora
pindah ke Malaysia mengikuti ayahnya.
"O yaa ampun..kapan di Indonesia? tanya
Risa.
"Yaa sekitar satu minggu, aku lihat di IGmu
banyak sekali folowernya, aku salah satunya , eh kembali ke foto profil itu
calon suami aku, bulan Maret kami rencana menikah, bisa kan Ris, cukupkan
waktunya pliss ?”
"Yaa tergantung sih, kamu pilih desain
seperti apa, kalo rumit yaa nambah tenaga kan aku hehe. Kapan ni kita
ketemuan ?"
"Lusa aku ke sana ya, yuuk sampai ketemu , bye Risa "
"Okee aku tunggu bye," Risa menutup
pembicaraan.
"Sa ...jangan duduk di luar, tu dengar azan," nyaring suara Bu
Sani dari dalam rumah. Risa segera masuk ke rumahnya, Ia tidak mau mendengar
suara ibunya yang lebih nyaring lagi. Selepas solat, Risa duduk diatas
sofa dan membuka foto di galeri hpnya. Beberapa foto gaun pengantin koleksinya
diperhatikan satu-persatu. Pandangannya tertuju pada kain sutra di atas meja
kerjanya. Sutra Charmeuse adalah kain yang berkelas . Risa baru kali ini
membuat gaun pengantin dari jenis kain itu. Sehingga ia harus berhati-hati
dalam pengerjaannya. Ia memikirkan model seperti apa yang diinginkan
Flora. Risa mengambil kertas, dengan lihai ia mengambar sebuah gaun pengantin.
Ia paham benar tiap kain mempunyai kelenturan berbeda. Ia memgang kain yang
lembut dan gampang jatuh itu.
Musik mengalun merdu mengiringi pertemuan Risa
dan Flora di kafe Laras. Canda tawa berderai sambil mengenang pertemanan saat
SMP. Dengan mata berbinar Flora bercerita tentang calon suaminya yang bernama
Joe. Seorang ahli IT di perusahaan telekomunikasi ternama Malaysia. Pernikahan
Flora digelar di Indonesia sekaligus sebagai reuni keluarga besarnya. Percakapan
menjadi serius saat Risa menunjukkan sketsa gaun pengantin. Setelah diskusi
panjang akhirnya mereka sepakat tentang model, kain tambahan, hiasan dan tentu
saja harga.
Risa menyesap kopi dari cangkirnya. Keputusan
Flora menikah dengan Joe yang baru empat bulan dikenal, membuatnya
berfikir.Apakah keputusan itu tidak terlalu cepat? . Ingatannya melayang pada
Farhan. Pria yang pernah mengisi hatinya. Tiga tahun hubungan mereka berjalan,
namun sayang sekali harus kandas. Risa menghela nafas panjang. Tiga tahun Risa
berusaha mengenal keluarga Farhan dengan baik. Tapi Risa harus menelan kecewa,
dan memilih mundur, terlalu banyak perasaan yang dikorbankan jika diteruskan.
Semua detil gaun pengantin Flora, Risa kerjakan
dengan cermat. Dibantu dua asisten untuk memasang manik-manik, mutiara serta
bunga-bunga imitasi. Tema gaun pengantin, sama dengan nama calon mempelai, Floral .
Gaun yang cantik, secantik yang punya, Risa berkata dalam hati. Kini gaun itu
telah selesai terpajang anggun di manekin galeri, siapapun yang melihat
terpesona. Saking asiknya mengerjakan gaun itu. Risa tak sadar, hampir satu
bulan Flora tidak menghubunginya sama sekali. Risa segera mengambil handphone
dan menekan nomor. Terdengar manis lagu “Somewhere Only We Know dari seberang.
“ Iya hallo.” Suara Flora tak seperti biasanya.
“Oke cantik gaun udah siap, tinggal fitting ni..,”
sapa Risa renyah
“Emh iya, tapi bukan minggu ini ya.., aku tranfer
limapuluh persen dulu ya Ris.” Pinta Flora.
“Emh...Flora sakitkah ?” tanya Risa khawatir.
“Iya ni ... dikit, gimana bisa kan Ris ? aku lunasin saat ambil,”
“Oke .. bisa- bisa,” jawab Risa. Beberapa saat
Risa termenung, sampai sebuah notivikasi dana masuk berbunyi dari hanphone
membuatnya tersadar. Risa melihat sekilas, cukup untuk biaya tambahan dan
menggaji dua asisten pikirnya.
Seminggu telah berlalu, Risa dengan sabar
menunggu . Ia tetap aktif mengerjakan baju-baju pesanan. Tiba-tiba sebuah pesan
suara dari Flora yang mengajak Risa bertemu di kafe Laras. Begitu bertemu Risa
sangat terkejut melihat perubahan Flora yang drastis. Wajah yang dulu segar
ceria menjadi tirus dan pucat. Flora duduk di depan Risa dengan pandangan
kosong.
“Ris, Joe ingin
menunda pernikahan, kau tahu semua persiapan sudah delapan puluh persen,
keluargku akan malu besar,” kata Flora menahan marah.
“Kau sudah
bicarakan ini dengan Joe?” tanya Risa menyembunyikan sedihnya
“Tidak hanya tanya,
aku terbang dan menanyakan langsung kepadanya, alasanya sungguh tidak masuk
akal,” kata Flora. Bulir-bulir airmata jatuh di pipi. Tangis yang ditahan membuat bahunya
berguncang-guncang. Risa tidak bertanya lebih jauh, ia ingin mendengar saja.
“ Kenapa aku begitu bodoh Risa, beberapa saham
aku percayakan padanyaaa,” jerit Flora histeris. Tiba-tiba ...braak. Flora terkulai pingsan . Risa segera meminta bantuan pelayan dan sekuriti kafe Laras.
Suasana di kafe menjadi tegang. Risa terus mendampingi Flora hingga perawat UGD
mempersilahkannya menunggu di luar. Berkecamuk dalam benak Risa. Pernikahan
tinggal menghitung hari. Tiba-tiba batal. Ah ini seperti mimpi dan cerita, tapi
nyata. Keluarga Flora berdatangan, yang terlihat sangat cemas adalah mamanya.
Dari mamanya terkuak cerita, Flora pernah depresi di tempat kerjanya yang lama,
sekitar empat bulan belakangan keluarganya merasa tenang setelah Flora mampu
mengatasi depresi dengan bantuan Joe. Itulah alasan keluarga menyetujui
penikahan dilaksanakan segera, dengan tujuan Flora ada pendampingnya. Ah Joe kau datang sebagai penyembuh, tapi
membuat luka yang lebih dalam. Semoga Flora mampu melewatinya. Doa Risa dalam
hati.
Setelah seminggu keluar dari rumah sakit. Fisik
Flora terlihat sehat, tetapi sayang psikisnya yang lemah. Risa datang dan
memeluknya. Sayang sekali Flora sudah tidak mengenali lagi. Flora asyik dengan
dunianya . Sering bicara, senyum dan tertawa sendiri. Risa meninggalkan Rumah
Flora dengan seribu kesedihan. Ingin sekali ia mengandeng temannya berjalan
untuk melihat langit yang tetap biru, dan laut yang terus berombak. Meski badai
seringkali menghempas. Gaun pengantin tetap bertengger anggun di manekin galeri. Risa meletakkannya di dalam etalase kaca . Ia berharap semoga pemilik segera menjemputnya