Yang Tersisa

 Puisi

                                            Dokumen google

                                   Rapuh 


Gemericik air, dan embun yang berpendar di rerumputan

 Jalan - jalan teduh yang pernah kutapaki

Seolah mengeluh, menggerutu meski terdiam

Tiada sambut senyum ramah mereka lagi


kau tau mengapa ?

Karena mereka menunggu warta

Tentang luka-luka yang kutahan sendiri

Tentang harapan yang pernah terpatri


Meski kucoba menyapa,

Juga berusaha selalu ramah dan ceria

Seolah mereka ingin bertanya

Kemanakah  sepasang kaki  dewasa?


Haruskah aku bercerita...

Tentang arah langkahmu yang berbeda

Meski aku berusaha selaras sekata

Menggenggam erat letihkan sukma


Tinggal tangis pedih  laraku kini

Meratapi lenyapnya mimpi-mimpi

Selasar heningnya senyapkan sunyi

Meremuk rapuh di  sanubari











Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama