Asal-Usul Desa Dabasah

 Asal-Usul Desa Dabasah


Dokumen google


    Padepokan Pandean terletak di dataran rendah kabupaten Bondowoso. Pengasuh padepokan Pandean adalah Ki Suro dan istrinya Nyi Gendis. Di padepokan Pandean berbagai ilmu diajarkan utamanya ilmu kanuragan atau bela diri. Ki Suro sebagai guru beladiri dan perilaku budi pekerti, sedang Nyi Gendis melatih ketangkasan memanah dan ketrampilan berkuda. Semakin hari semakin banyak murid yang datang ke padepokan Pandean.  

    Saat pagi buta Ki Suro membangunkan muridnya untuk berlatih bela diri , mereka berlatih di halaman padepokan yang luas. Pada siang hari Nyi Gendis melatih berkuda , dan memanah secara bergantian. Nyi Gendis sangat mahir memanah. Setiap bidikannya tak pernah meleset, meski dengan mata tertutup. Lebih hebatnya lagi Nyi Gendis mampu memanah saat berkuda yang berlari kencang  dengan mata tertutup dan tepat sasaran.  Semua muridnya ingin sekali mewarisi ilmu memanah seperti Nyi Gendis. Sehingga nampak sekali saat pelajaran memanah semua murid memperhatihan dan mempraktekkan dengan sungguh-sungguh.   Pada malam hari Ki Suro mengajarkan cara berperilaku dan kearifan budi pekerti sebagai manusia. 

    Padepokan itu telah meluluskan murid-murid terbaik. Sehingga banyak lulusan padepokan menjadi prajurit  punggawa di pemerintah kabupaten  ataupun kademangan yang tersebar di Bondowoso. Hal ini menjadikan Ki Suro dan padepokan Pandean menjadi pilihan utama bagi pemuda-pemuda di Kabupaten Bondowoso dan sekitarnya dalam mencari ilmu. 

    Pagi itu seorang pejabat pemerintahan datang ke padepokan dan bertemu dengan Ki Suro

"Kami diutus Bupati untuk menyampaikan surat ini," kata pejabat itu. Ki Suro membaca kemudian menbgangguk-angguk. Isi surat itu Bupati meminta Ki Suro mengirimkan 15 murid terbaiknya yang akan  dijadikan prajurit utama untuk memperkuat pasukan . 

    Dihadapan murid-muridnya Ki Suro menyampaikan perintah dari bupati. Murid-murid Ki Suro sangat gembira mendengar berita ini. Maka mulailah keesokan harinya diadakan pertandingan untuk memilih prajurit terbaik. Babak pertama, dari seratus murid terseleksi enam puluh yang lolos. Babak kedua pun digelar. Kali ini Nyi Gendis yang memulai seleksi. Para murid menunggang kuda dengan rintangan, mengambil bendera dan menancapkan dengan benar di tempat yang telah disediakan. Berikutnya dengan mengendarai kuda berkecepatan tinggi mereka memanah sasaran. Dan yang paling sulit mereka memanah sambil berkuda dengan mata ditutup sapu tangan. Di tahap ini lima belas murid yang lolos. Tahap akhir mereka harus menjawab dan menjabarkan  pertanyaan yang sulit dari Ki Suro. Ada tiga murid yang dinyatakan lolos pada tahap ini. Mereka adalah Mas Karebet, Anggara, Aryajaya

    "Kalian memang hebat , tetapi aku harus memilih satu  diantara kalian untuk menjadi pemimpin ke lima belas orang yang akan aku kirim," tegas Ki Suro. 

    "Lihatlah ke langit, sebentar lagi hujan akan turun dengan lebat,  kalian harus duduk di pelataran ini tanpa benda apapun yang menaungi, jika diantara kalian tidak tersentuh atau baju dan badan kalian tetap kering, maka itulah pemenangnya, " kata Ki Suro lantang. "Blaar!!!  suara guntur menggelegar memekakan telinga disusul hujan yang sangat deras.   Ketiga murid Ki Suro  yaitu Mas Karebet, Anggara, dan Aryajaya duduk bersila di pelataran yang luas itu. Mereka duduk berjauhan dan saling membelakangi. Ki Suro dan murid yang lain menunggu di pendopo . Meski diguyur hujan lebat dan petir yang menyambar, nampak mereka duduk tenang,. Namun beberapa saat Aryajaya terlihat basah kuyup. Beberapa kali ia bersin. Hujan makin deras semua murid masih menunggu dengan sabar, tak lama kemudian Anggara menggigil kedinginan. bibirnya bergetar. Sedang Mas Karebet duduk dengan tenang. Tak bergeser sedikitpun dari tempat duduknya. Setelah hujan reda semua menghampiri para peseta satu-persatu. Aryaraja langsung diangkat, demikian juga Anggara. Semua murid menghampiri Mas Karebet yang masih duduk tenang. Mereka semua kaget dan berteriak " Dak basah, bajunya dak basah, bagaimana bisa," 

    "Lihat Ki , bajunya Mas Karebet tetap kering dak basah," teriak murid-murid . Ki Suro tersenyum puas . Ia menepuk - nepuk pundak Mas Karebet. Ki Suro begitu bangga.

    "Dan kalian dengarkan baik-baik, atas kejadian ini maka desa ini aku beri nama Dabasah," teriak Ki Suro dengan keras. Langitpun seolah setuju. "Blaaarrr!!! petir menyambar dengan keras. 

    Maka sejak saat itu wilayah Pandean disebut Desa Dabasah atau Kelurahan Dabasah. Mas Karebet menjadi senopati dan jabatan terakhirnya adalah sebagai patih di kabupaten Bondowoso.




Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama