Raden
Bagus Asra Bupati Pertama Kabupaten Bondowoso
Disusun oleh :
Lilik Herawati,S.Pd
Sumber dari : 1.
Sejarah dan Budaya Bondowoso oleh : Dr H Mashoed M.Si
2. Tantri
Raras Ayunintyas pada Detikcom
3. https://apps.detik.com/detik/
Di sebuah kademangan, nampak anak-anak kecil sedang bermain dengan gembira. Salah satu anak laki-laki itu adalah Raden Bagus Asra. Mereka sedang bermain benteng. Suasana riuh ramai saat salah satu pemain berhasil menenmbus benteng lawan. Setelah puas bermain mereka mandi bersama di kolam yang berair jernih dari sumber air yang mengalir di dekat kademangan itu.
Suasana Kerajaan yang tenang tiba-tiba berubah, derap langkah kuda-kuda mendekati kerajaan dengan berpuluh penungganya. Mereka adalah gerombolan Ke Lesap. Ke Lesap memimpin gerombolan ini menyerang kerajaan Madura. Kabar itu cepat menyebar hingga kepada keluarga Ki demang
“ Ayah, ibu saya takut
kata Bagus Asra kepada ayah Ibunya .
“ Tenang cah bagus
pasukan kerajaan akan melawan mereka,” kata Nyi Demang. Nyi Sedabulangan istri
Raja Adikoro IV duduk terdiam lama. Nyi Sedabulangan adalah nenek Raden Bagus
Asra.
Untuk beberapa saat Bagus Asra terlihat tenang. Ia memandang langit-langit di kamarnya.
Ke Lesap dan teman-temannya menyerang kerajaan
dengan ganas. Ia ingin merebut kekuasaan raja. Ke Lesap ingin menggantikan Raja
Adikoro IV sebagai raja.
Pasukan dan tentara kerajaan melawan serangan dari gerombolan Ke Lesap. Mereka berusaha keras melindungi raja dari serangan Ke Lesap.
Nyi
Demang , Nyi Sedabulangan dan keluarga terus berdoa agar perang segera selesai.
Para dayang duduk sambil berjaga-jaga. Suasana di kademangan menjadi sunyi. Tak
ada yang berbicara ataupun bercanda seperti hari-hari biasa.
Tiba- tiba dari arah
pintu terdengar suara prajurit
“ Nyai kami dari
kerajaan,”Teriak mereka. Nyi Demang menyuruh dayang untuk segera membukakan pintu.
“ Nyi kata raja kami
harus membawa Raden dan keluarga ke
tempat yang aman,” Kata prajurit itu tergesa.
“ Kemana kami harus
mengungsi ?” tanya Nyi Demang dengan perasaan khawatir
“Kami akan mengantar ke
Besuki, kata Raja itu tempat yang aman” kata prajurit .
Semua anggota keluarga
Ki Demang dan para dayang mempersiapkan bekal untuk perjalanan jauh ke Besuki.
Perjalanan itupun
sangat hati-hati. Mereka menyamar sebagai rakyat biasa. Dua gerobak perlahan
meninggalkan rumah Ki Demang. Melewati jalan-jalan desa , sawah dan perbukitan.
Hingga sampailah di pelabuhan. Rombongan itu berganti naik perahu. Perahu
melaju menuju pantai di Besuki.
Sesampai di sana Raden
Bagus Asra dan rombongan diterima dan tinggal di rumah Patih Wiropuro atau Ki
Patih Alus.
“ Ibu apa kita akan selamanya di sini,? Tanya
Raden Bagus Asra sedih
“Tentu tidak, kalau sudah aman kita akan kembali ke Sumenep," kata Nyi Demang , yang membuat Raden Bagus Asra tenang. Nyi Sedabulangan sedang berbicara kepada patih Wiropuro. Mereka mendapat kabar bahwa raja Adikoro meninggal, terbunuh oleh Ke Lesap. Nyi Sedabulangan sangat sedih, ia menangis terisak-isak. Melihat nenek yang sangat menyayanginya sedih, Raden Bagus Asra ikut menangis . Ia merasa sangat kehilangan kakek yang sanyat ia hormati dan banggakan. Sejak saat itu keluarga ini menetap di Besuki.
Raden Bagus
Asra belajar tentang ilmu kanuragan juga
agama islam. Ia belajar dengan tekun, setiap pelajaran diulangi hingga memahami
dengan baik. Raden Bagus Asra adalah anak yang cerdas dan terampil, ia
menguasai semua ilmu yang diajarkan oleh Patih Wiropuro. Melihat hal ini bupati Besuki sangat bangga .
“Patih Wiropuro, aku ingin mengangkat anak Bagus Asra,”kata
Bupati Besuki
“Baik tuangku, saya sangat gembira dan sangat berterima kasih,” jawab Patih Wiropura dengan hati yang sangat bahagia.
Pada usia 17
tahun, Raden Bagus Asra diangkat menjadi Menteri Anom dengan gelar Abhiseka
Ngabehi Mas Astrotruno. Bagus Asra juga dinikahkan dengan putri Bupati
Probolinggo, Joyolelono yang bernama Roro Sa'diyah. Bupati Besuki ingin
memperluas daerah kekuasaan. Ia mengutus Raden Bagus Asra untuk membuka lahan
di daerah selatan Besuki yang saat itu berupa kawasan hutan luas yang sangat lebat. Bupati Probolinggo memberi bekal seekor
kerbau putih yang menjadi teman dalam perjalanan ke daerah tersebut. Di hutan
lebat itu dihuni kawanan perampok . Raden Bagus Asra terlibat perkelaian dengan
perampok saat memasuki kawasan hutan. Raden Bagus Asra berhasil mengalahkan
perampok-perampok itu. Bahkan para perampok itu menjadi anak buahnya yang setia
dan membantu beliau membuka kawasan hutan tersebut. Di kawasan ini Raden Bagus
Asra membangun desa baru. Beliau mengajarkan dan mensyiarkan agama Islam.
Lama-kelamaan desa ini menjadi berkembang, banyak pendatang yang menetap dan
membuka lahan pertanian, perkebunan, juga beternak. Hingga desa yang tadi sepi berubah menjadi
sebuah kecamatan yang penduduknya terus bertambah. Raden Bagus Asra dan
masyarakat membangun jalan, pasar,
jembatan juga tempat-tempat ibadah . Perkembangan ini sangat membuat Bupati
Besuki bangga .
“Anakku Bagus Asra, aku
sangat senang melihat perkembangan wilayah ini, oleh karena itu tempat ini sudah
layak menjadi sebuah kabupaten,” kata Bupati Besuki
“ Jadi hari ini saya
nobatkan kamu sebagai Bupati daerah ini kusebut Bondowoso,” lanjut Bupati
Besuki . Maka sejak saat itu Raden Bagus Asra sebagai Bupati Bondowoso.
Bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 1819. Setelah wafat, Raden Bagus Asra dimakamkan di sebuah bukit di desa Sekarputih . Beliau
juga dikenal dengan sebutan Ki Rangga.