Jangan Pak

    " Jangan Pak"

 Setelah berbulan-bulan menunggu, akhirnya nampaklah bangunan megah di seberang rumah Karin. Bangunan megah itu tak lain adalah sebuah mal. Kota kecil setingkat kabupaten tentunya jarang yang memiliki mal. Tapi hal itu tak pernah ada dalam pemikiran Karin. Yang penting sekarang ia dan teman-temannya punya tempat nongkrong yang keren. 

Hari ini tepat pembukaan atau lounching mal di seberang rumah Karin. Karin dan May temannya tak melewatkan acara itu. Meereka ikut antri untuk bisa memasuki ruangan mal . Antrean panjang membuat mereka berjalan perlahan. Itu dikarenakan begitu banyaknya pengunjung yang ingin menyaksikan pembukaan mal. Setelah berpuluh menit  mereka bisa memasuki mal itu. Karin dan May berjalan menuju outlet baju. Baju dengan segala model tergantung rapi dan menarik pembeli. Langkah kaki kedua remaja ini terus menjelajah semua ruangan mall. Lelah sebenarnya telah mereka rasa, tapi rasa penasaran mencegah mereka untuk berhenti. 

 May menunjuk ke lantai atas. Eskafator membantu mereka untuk melihat hamparan yang tersaji di lantai 2. Karin terpekik senang. Melihat studio film juga terdapat di situ. Seolah melupakan lelah di kakinya. Mereka sepakat untuk menonton di salah satu studio di situ. Kembali mereka masuk antrian pembelian tiket . Tak berselang lama mereka menempati tempat duduk yang nyaman . Karin dan May segera duduk. Film pun diputar cerita film membuat hening kedua remaja itu. Seorang laki-laki parobaya mendekati mereka. Reflek Karin berteriak " Jangan Pak" !!!. katanya sambil menyilangkan tangan di depan dada.

May pun terkejut . Lelaki itu menunjukan bahwa semua penonton sudah pergi dan studio akan tutup. Karin dan May berjalan gontai keluar dengan rasa malu yang tak  terhingga.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama