Dokumen Google
Guling
Ajaib Nenek
Aku dan adikku tinggal di desa Pagerwesi. Setelah ayahku meninggal, kehidupan kami berubah. Ibuku bekerja mencari nafkah. Ia bekerja sebagai buruh cuci di tetangga sekitarku. Tapi meskipun ibu sudah berusaha keras ,tetap saja penghasilanya tidak mampu mencukupi semua kebutuhan kami.
"Sandi, kalau ibu kerja dikota lain gimana,?" tanya ibu
"Kota mana itu Bu,?' tanyaku
"Surabaya, tempat kerja teman ibu butuh karyawan baru, ibu kerja di sana, jadi pelayan restoran," jawab ibu. Aku terdiam lama. Menurut ibu, selama ibu bekerja di Surabaya aku dan adikku akan tinggal di rumah nenek. Ibu tidak memberitahu Riri adikku. Meskipun diberitahupun Riri juga tidak akan mengerti. Ibu mengajariku apa saja yang harus aku lakukan jika Riri sakit panas, demam atau sakit perut. Aku mendengar dengan sungguh-sungguh. Ah kasihan ibu pikirku. Harus pergi jauh bekerja ke Surabaya untuk memenuhi kebutuhan kami.
Hari itu keberangkatan ibu ke Surabaya. Sebelum berangkat ibuku berpesan panjang lebar. “Jaga Riri dengan baik, kamu harus membantu nenek dan patuh kepadanya, nanti kalau uang ibu sudah cukup, ibu akan beli handphone,buat kalian,” kata ibu
: “Ya Bu,” jawabku sambil mencium tangan ibuku. Aku lihat Riri, adikku melambaikan tangan kepada ibu, tapi setelah bis yang membawa ibuku pergi Riri menangis. Hingga larut malam Riri tidak bisa tidur, ia rewel sekali dan memanggil-manggil ibu .Aku dan nenekku berusaha membujuknya. Saat lewat tengah malam ia baru bisa tidur,mungkin karena kelelahan. Hal ini berulang tiap malam menjelang. Aku dan nenek bergantian menemaninya. Teman-teman Riri datang,menjenguk, tetapi Riri tidak mau bertemu dengan mereka.
Kekhawatiran nenek semakin menjadi.
Satu minggu setelah keberangkatan ibu , Riri demam. Badannya panas sekali. Hingga kejang-kejang Aku dan
nenek membawa Riri ke puskesmas. Untungnya dokter segera menangani. Riri harus menjalani opname atau rawat inap. Badannya lemas, perawat memasang infus agar tubuhnya segera baik kembali. Setelah dirawat tiga hari Riri diperbolehkan pulang Dari puskesmas mendapat beberapa obat penurun
panas, dan penambah nafsu makan serta vitamin.
Obat dari puskesmas telah habis,
tapi Riri masih lemas, nenek membujuknya agar mau makan lebih banyak lagi. Tapi
Riri menggeleng perlahan. Nenek beranjak menuju kamar,ia mengambil kain ,lalu menjahitnya.
Aku hanya diam memperhatikan saja. Ah ternyata nenek membuat sebuah guling yang
besar. Nenek juga membuat sarung bantal guling dari kain bermotif bunga. Lalu guling itu diisi dengan kapas dan potongan kaii-kain kecil. Nenek
menunjukkan guling itu kepada Riri.
: “ Lihat, ini sebuah guling ajaib jika kau
peluk sambil berdoa sebelum tidur, kamu akan
bertemu ibumu,” kata nenek kepada Riri
”Benarkah Nek, ah mana mungkin ” kata Riri . Meski
begitu Riri menuruti kata nenek. Ia berdoa sambil memeluk erat guling itu setiap akan tidur. Malam ini kulihat Riri tidur dengan nyenyak.
Pagi hari Riri nampak lebih segar, ia makan
dengan lahap. Dengan wajah ceria Riri menceritakan mimpi bertemu ibu.
“Nek kata ibu, Riri nggak boleh cengeng, dan ibu akan
pulang bawa oleh-oleh banyak sekali,”
"Na benarkan, ibumu juga gembira kalau Riri sehat, banyak -banyak makan juga bermainlah dengan temanmu," kata nenek. Riri mengangguk, ia berjanji akan bermain dan bergembira lagi
Aku dan nenek tersenyum, lega rasanya melihat Riri sehat serta kembali ceria, berkat guling ajaib nenek.