Move On
Aku membalikkan badan, mengganti
posisi tidurku. Uuuuuh... badanku terasa pegal semua. Kegiatan outbond kemarin
masih menyisakan derita sakit di punggung dan betisku. Hingga selepas sholat subuh aku memilih tidur
lagi. Kulihat jam weker di meja rias menunjukkan pukul 08.00 WIB. Ya ampun bisa perang ini sama pak
Handi dosen pengujiku. Aku segera bangun lalu menyambar handuk dan berlari ke
kamar mandi. Biasanya aku membutuhkan waktu tiga puluh menit di kamar
mandi,untuk pagi ini asal celup dan pake parfum cukuplah daripada terlambat. Yang
lebih membuatku gelisah motorku lagi ngadat, sebenarnya kampusku dekat bisa ditempuh
dengan jalan kaki.Tapi saat emergensi kayak ini mending naik ojek, yang tiap
hari mangkal di ujung gang.
“Bang ke kampus,” kataku kepada bang
Tohir. Ia segera menstater sepeda motornya.
“Bisa lebih kencang ,Bang,” kataku .
“Tuh neng kampusnya sudah
kelihatan,bisa terlewat kalo kecepetan,”
Bang Tohir menepikan sepeda motornya, aku
turun lalu berlari ke pintu gerbang kampus. Duh sudah terlambat lima menit, semoga
saja pak Handi punya hati, membiarkan aku masuk.
“Mbak hoi..mbak..tin tiiin “. Seorang
laki-laki dengan sepeda motor mengikutiku dari belakang. Aku berhenti
“Ada apa bang?” tanyaku tak
sabar.
“Mbak ongkosnya belum bayar,” kata Bang Tohir.
Oh my God, aku mengambil uang dari dompet dan menyodorkan kepada bang Tohir.
“Maaf ya bang, lupa,” teriakku.
Aku
menuju ruang kelas tapi kosong. Hem apa presentasi dilakukan di ruang lain? Kubaca
agenda dari Asti,teman sekelasku yang dikirim ke handphoneku dua hari yang lalu,
tapi gak ada yang salah. Aku melangkah keluar mencari teman yang mendapat jadwal
presentasi micro teaching hari ini.
“May sini!” aku menoleh itu suara Asti.
”Beruntung
banget jadi kau May,”
“Maksudmu ?” tanyaku bloon .
“Presentasi ditunda nanti pukul 09.30 WIB ,” kata Asti.
“Yah aku pikir bakal kena semprot, kita masih punya waktu 40 menit,malas pulang ke
kantin yuk As,” ajakku.
“Ok”. Kami menuju kantin kampus.
“May,”
“Hem,”
“Tahu nggak sekarang popularitas
Dion digeser, ada idola baru,”
“ Oya,” aku menanggapi santai.
“Jangan terlalu cuek dong May,”
“Aku gak cuek Asti,cuman santai aja,” jawabku sambil menikmati tiap sendok bubur
ayam yang masuk ke mulutku.
“Masih teringat Fandi ya, biarkan
dia tenang May,aku yakin ia
juga ingin melihat kau bahagia,”
“Ok, trus siapa tadi idola barunya?”
kataku mengalihkan pembicaraan. Dan gosip terbarupun meluncur deras dari bibir
mungil Asti. Sementara anganku tenggelam pada satu nama Reza Afandi. Ya, Fandi
nama itu sulit aku hapus dari ingatanku. Laki-laki yang sempat beberapa bulan
mengisi hari-hariku. Kami merasa cocok karena punya hobi yang sama, mencintai
alam. Sayang saat pendakian di Semeru satu tahun yang lalu, hipotermia sadis
itu merenggut nyawanya. Aku sulit mempercayai kejadian itu karena pagi hari melalui handphone
ia berjanji akan membawakan hasil jepretannya di Puncak B 29 dan Ranu Kumbolo, sebagai
hiasan mading bagi tim pecinta alam kampus. Bahkan sampai sekarang kata kata
itu masih terngiang di telingaku. Kuhembuskan nafas perlahan untuk mengurangi
beban di hatiku.
“Ayolah May ..santai itu kalau kau move on,
sadarlah sebenarnya kau menarik kok,”
“Well kau memang sohib yang paling
jujur As terus kenapa?,” aku bertanya asal.
“ Huh dasar geblek dandan sedikit kenapa
sih,”. Asti mulai mengoceh dan memprotes penampilanku yang berubah setelah kehilangan Fandi.
Asti melihat arloji di tangannya .
”Tinggal sepuluh menit nih, ke kelas
yuk,sekalian persiapan, kamu presentasi setelah Andin kan?”ajak Asti. Aku
mengangguk setuju.
Pak
Handi memasuki kelas bersama seorang laki-laki “ Assalamu alaikum dan selamat
siang,” suara pak Handi menggema memenuhi ruangan. Beliau memperkenalkan Dimas
sebagai asisten dosen. Asti dan teman-temanku saling berbisik .
”Itu
Dimas yang aku ceritakan tadi,” bisik Asti ke telingaku. Aku melihat dengan
sudut mataku. Aha bukankah aku pernah melihatnya tapi dimana ya?. Hem aku jadi
teringat, Dimas hadir sebentar saat pembukaan outbond dua hari yang lalu
.Sekarang aku bisa melihat dengan jelas, orangnya lumayan enak dipandang.
“Baik sesuai jadwal yang sudah saya berikan,
presentasi silahkan dimulai,” kata pak Handi. Andin baru saja mengakhiri
presentasinya.
”Saudari
Damayanti,” pak Handi memanggilku. Aku maju ke depan mempresentasikan PTK
tentang bangun ruang. Ah... lega rasanya, semua berjalan lancar.
***
Dari
beberapa teman aku tahu bahwa Dimas sedang mengambil program pasca sarjana di
kampusku. Ia juga menjadi asisten dosen di sini. Hampir setiap hari Asti
membawa berita tentang Dimas hingga aku curiga.
“
As kayaknya kamu lagi jatuh cinta deh sama Dimas,trus Pandu mau dikemanain kau pacarin
juga, rakus amat,” kataku menegurnya
“Ini untuk kau May, Dimas tu baik, terus
kalian punya hobi yang sama, bener kau gak tertarik?” sergah Asti lalu cemberut
bak jeruk purut.
“Ya
ampun Asti gak perlu seserius ini, oke deh aku terima saranmu,” kataku yang
membuat Asti tersenyum dan mengangkat kedua tangannya ke langit. Handphoneku
berdering
“May nanti malam jam tujuh tepat rapat
di rumah Mira,bisa kan?” kata Arif mahasiswa hukum ,anggota pecinta alam
sepertiku.
”Motorku di bengkel, aku bisa nebeng kan
Rif ?” kataku merayu.
“Iya nanti kujemput,” jawab Arif dari
seberang, aku menutup telepon.
“Makanya May kalau kau punya pacar kan enak
kemana-mana ada yang anterin,” kata Asti
“Kan ada bang Tohir,dia mau kok antar aku
kemana aja,” ledekku.
Pukul
tujuh kurang lima menit Arif sudah berdiri di depan pagar, segera kami meluncur
ke rumah Mira. Aku tidak menyangka Dimas juga ada disitu. Aku bingung mau
memulai bicara dengannya.
“ Aku suka dengan ulasan –ulasan kamu di
mading kampus ,” kata Dimas tiba-tiba. Aku tersenyum, perhatian juga dia dengan
kegiatan pecinta alam di kampus. Dimas dan teman-temanya membuka usaha kursus
profesional panjat tebing. Kini aku mulai mengerti mengapa Dimas terlibat pada
kegiatan kami. Minggu depan kami akan melakukan bakti sosial yaitu gerakkan
peneneman seribu pohon di Gunung Putri dibantu TNI setempat.
***
Pelan
– pelan tanpa aku sadari aku merasa betah sekali berbincang dengan Dimas. Ia sangat
paham tentang kegiatan kami. Aku banyak mendapat ilmu baru darinya, demikian
juga Dimas senang berdiskusi denganku yaa setidaknya itulah yang aku rasakan.
Rasanya hari-hariku lebih indah saat bertemu Dimas. Wow apa aku jatuh cinta
lagi ya?