“Sinta…….Sinta” ibu memanggil Sinta yang sedang bermain boneka. Tak ada sahutan sedikitpun dari Sinta.
"Ada apa bu?”sahut Dika,menghampiri ibu di meja belajar.
”Kemarin ibu bertemu bu Ani wali kelasnya Sinta,beliau bilang agar Sinta belajar baca karena tidak lancar,” Kata ibu cemas.
Sinta malas sekali belajar,tiap disuruh selalu membantah dan banyak alasan .”Aku sudah bisa Kak, lihat tu pialaku udah banyak kan”. Begitu alasannya. Dika hanya diam melihat piala yang berjajar rapi hasil lomba yang dimenangkan Sinta. Memang dibidang seni Sinta sangat menonjol, berbagai lomba telah berhasil dimenangkannya ,mulai lomba menyanyi, mewarnai, sampai lomba menari. Sayang dalam hal membaca Sinta ketinggalan jauh dibanding teman-teman seusiannya. Oleh karena itu ibu selalu membujuk Sinta agar mau belajar membaca, bahkan ibu hampir putus asa dibuatnya.
Tapi siang itu berbeda, tanpa disuruh. Sinta mengambil
buku dan mulai belajar membaca di halaman belakang.Ia membaca dengan sungguh-sungguh
dan berulang-ulang .
”Su..su..sungai
di desa itu sa…sa..sangaat jernih”.Ibu dan Dika jadi heran bercampur senang melihat apa yang dilakukan Sinta .
“Dika
adikmu berubah, kira-kira apa ya yang membuat dia semangat belajar baca?”tanya ibu sambil tersenyum. Dika tersenyum sambil mengangkat bahunya.
Keesokan hari saat di sekolah Dika mendengar bahwa bu Ani wali kelas Sinta akan mengadakan lomba membaca cerita pendek ,tujuannya supaya anak rajin membaca. Hem,itu rupanya yang membuat Sinta semangat sekali belajar membaca , kata Dika dalam hati. Ibu dan Dika pun mendukung dengan membantunya .Dua minggu berselang tibalah saatnya lomba. Sinta mendapat nomor penampilan 7. Ia melangkah tenang kedepan juri dan mulai membaca. Ibu dan Dika berharap cemas, mereka berdoa semoga Sinta bisa memenangkan lomba membaca.
Tak perlu menunggu lama hasil lombapun diumumkan. Dari
48 siswa, Sinta urutan ke- duabelas, .dan bukan sebagai juara pertama seperti lomba-lomba
sebelumnya. Sinta terlihat sedih, ia terdiam sambil melihat para teman-temanya yang menjadi juara maju ke depan kelas. ibu dan Dika menghiburnya.
”Sayang,
sebenarnya Sinta bisa membaca saja adalah hadiah terbaik bagi ibu ,“Kata ibu sambil
memeluk Sinta. Sinta mengangguk pelan.
“Ya bu Sinta akan lebih giat lagi belajar”kataSinta sambil tersenyum. Sejak saat itu Sinta jadi rajin membaca.
iu