Gelisah

 Pentigraf

                                                        Dokumen google


    Gelisah

Rara tidak menyangka sikap Nafis berubah setelah ia tahu bahwa Rara hanyalah lulusan SMA. Menurut Rara sangat tidak relevan jika riwayat pendidikan begitu dipermasalahan. Toh selama ini pekerjaanya sebagai sekertaris di CV Persada aman-aman saja. Beberapa kali Rara membuka WA, mengharap pesan dari Nafis seperti biasa,  tetapi ia kecewa. Dari notivikasi di nomer Nafis terbaca jelas 2 menit  yang lalu aktif. 

Tangan lentik Rara menekan nomor kontak Nafis. Terdengar nada sibuk di ujung telpon. Rara mencoba lagi, nada dering berbunyi agak lama dan berhenti. Ia mengulangi panggilan, tapi tiba-tiba diputus. Rara semakin gelisah. Kosentrasinya kacau. Laptop yang berada di depannya dibiarkan menyala.

Kantor Nafis tampak asri, beberapa pohon tabebuya merindangi, menambah cantik komplek perkantoran. Rara menuju ke meja resepsionis. Menurut resepsionis, ternyata sudah dua hari Nafis tidak masuk kerja. Rasa kesal dan marah menguras energi Rara, hingga membuatnya merasa lapar. Sepeda motor dijalankan pelan, menuju Depot Gendis tempat makan favorit Rara. Setelah memesan makan dan minuman, ia duduk di kursi dekat jendela. Rara terkejut, di seberang nampak Nafis sedang berbicara dengan seorang gadis. Melihat gadis itu mendidih darah Rara. Ia segera beranjak dari tempat duduk dan berjalan menuju tempat mereka. Rara mengangkat gelas minuman lalu menyiramkan ke wajah gadis manja itu . “Heh , bengong aja, sudah kelar belum edit naskahnya,” Kata Pak Bian,  pemimpin editor sambil menepuk pundakku . 


    


    

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama