Seperti Puisi
Semenjak ibunya meninggal Viona tinggal bersama nenek, kakek dan Intan, tantenya. Mereka begitu menyayangi Viona. Viona masih berumur tiga tahun saat diambil neneknya. Selama ini semua kebutuhan Viona selalu tercukupi. Semua itu berkat kerja keras ayahnya yang bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia . Sudah bertahu-tahun ayahnya bekerja, menurut sang nenek ayahnya bekerja di Taiwan. Kini Viona tumbuh beranjak remaja. Kerinduan kepada sosok ayah tak bisa dibendung. Viona meminta neneknya memberikan no WA atau telepon ayahnya. Tapi neneknya bergeming, tetap kekeh tidak mau menunjukkan kepada Viona. Hal ini membuat Viona bertanya- tanya . Mengapa ia tidak boleh menghubungi ayahnya secara langsung. Tapi Viona tak hilang akal, ia merayu tantenya untuk mendapat no WA ayahnya. Usahanya tak sia-sia, tantenya merasa iba mendengar alasan Viona, yang ingin menunjukkan kegiatan selama di sekolah.
Viona pergi ke perpustakaan daerah. Ia sengaja memilih tempat yang jauh dari keramaian untuk menghubungi ayahnya. Lama sekali Viona melihat nomor WA di hpnya. Ini baru pertama kali ia akan menghubungi ayahnya secara langsung. Jarinya menekan nomor wa .dan tanda kamera. Nada sambung terdengar pelan, untuk beberapa saat ia menunggu. Seseorang nampak di layarnya, laki-laki itu kaget, setelah itu layar mendadak mati. Sebuah notifikasi terdengar. Disitu tertulis telepon suara saja, lagi sibuk tidak bisa lihat kamera. Viona menghela napas, ia membaca pesan itu, lalu melakukan panggilan suara.
"Ayah ini Viona, apa kabar ayah," sapa Viona ceria.
"Ya, ayah tidak bisa vidiocall ya, di sini ramai, gimana kabar Viona, baik saja kan,?"
"Ya baik, kapan Viona bisa bertemu ayah,?" tanya Viona . Laki-laki di ujung telepon itu terdiam .
"Tenang nanti ayah kasih kabar kalau pekerjaan ayah sudah longgar," jawab laki-laki itu perlahan.
"Oke , makasih ayah selamat bekerja," kata Viona menutup percakapan.
Untuk beberapa minggu Viona merasa tenang. Ia yakin ayahnya akan segera menemuinya. Minggu berganti bulan . Viona menandai kalender yang bertengger di dinding kamarnya. Tak terasa sudah tiga bulan dari perbincanngan di telepon, kabar kedatangan ayahnya seperti angin saja. Viona menjadi gelisah dan cemas. Timbul pertanyaan yang beragam di hatinya. Hingga ia memutuskan untuk menyusul ayahnya .Kembali ia merayu tantenya. Ia merangkul tantenya dari belakang, saat tantenya duduk santai menonton televisi.
"Hem ada apa ni, manja amat ponakan tante," tanya Intan.
"Tante, Viona kangen ayah," rengek Viona.
"Lho kan tempo hari sudah telepon," sahut tantenya.
"Viona ingi ketemu ayah langsung, ingin peluk ayah," kata Viona pelan. Intan terdiam lama. Ia menghela napas perlahan.
"Apa benar ayah masih di luar negeri Te?, saat Viona vidiocall ia nggak mau, minta telepon suara saja, ayah berjanji akan menghubungi Viona jika tidak sibuk, tapi ini sudah tiga bulan tante,
" Sabar dong,ayah Viona benar-benar sibuk kan," kata Intan.
" Sesibuk apa? hingga untuk anaknya sendiri sulit datang? kenapa sih keluarga ini penuh rahasia !!!" jerit Viona putus asa.
"Blaarrr !!! Viona begitu jengkel, hingga ia menendang pintu ruang tengah. Suara tendangan pintu menggema ke seluruh ruangan. Intan tersentak kaget, ia berbalik dan memeluk Viona yang merasa gelisah dan kesal. Tangis Vionapun pecah menyayat hati. Intan menuntun Viona menuju kamarnya. Beberapa saat Viona terisak dipelukan Intan, sampai akhirnya mereda. Kini mereka duduk berhadapan di tempat tidur.
"Viona sungguh ingin bertemu ayah?" tanya Intan. Viona mengannggukan kepala kuat - kuat.
"Baiklah, Tante akan minta Om Bagas mengantar Viona ke ayah ok," kata Intan. Wajah Viona berbinar mendengarnya.
Intan menyampaikan keinginan Viona kepada Nenek. Nenek tidak setuju, alasannya belum waktunya. Intan berusaha keras meyakinkan Nenek memahami keinginan Viona. Akhirnya dengan berat Nenek mengijinkan.
Mobil berjalan meninggalkan halaman rumah nenek. Dan kini melaju kencang melewati beberapa kota. Intan duduk tenang di samping Bagas, suaminya yang selalu santai saat menyetir mobil. Sementara Viona duduk dengan Runa sepupunya, di bagian belakang. Mengalun lembut suara Rhianne membuat redup suasana.
I walked across an empty land