

Meja Oval Sarmini
" Tidak ibu , aku tidak mau tinggal di rumah kecil ini lagi, bukanya ayah sudah punya rumah yang besar dan bagus, kenapa kita tidak pindah saja kesana, " rengek Onay kepada Rafida. Rafida hanya terdiam, ingatanya melayang pada delapan tahun yang silam.
Rafida seorang gadis sederhana yang baru saja lulus SMA. Ia melamar kerja di sebuah perusahaan batik. Seminggu kemudian ia mendapat kabar, bahwa lamarannya diterima. Dan mulai saat itu ia bekerja di perusarhaan batik "Prabu" milik R.A Sarmini, seorang janda keturunan ningrat yang sukses berbisnis batik. Hingga mempunyai toko di beberapa kota . Rafida bekerja di toko batik salah satu cabang di kota Semarang. Rafida mampu menaikan omset penjualan dalam beberapa bulan, hal ini menjadi perhatian dari R.A Sarmini. Hingga dalam waktu singkat Rafida mendapat kepercayaan menjadi pimpinan cabang dari toko tersebut. Setiap bulan pimpinan cabang melakukan rapat di kantor pusat. Rapat dipimpin oleh RA Sarmini sendiri, tetapi suatu hari saat ia berhalangan , rapat dipimpin anak laki-lakinya, R.M Prabu Kuncoro.
Semua pimpinan cabang memaparkan hasil kerja di tiap-tiap cabang, begitupun dengan Rafida. Ia membacakan laporan penjualan dan rencana pemasaran bagi cabangnya. Rafida dianggap sebagai pimpinan cabang terbaik, karena loyalitas dan totalitasnya bekerja untuk perusahaan bagus sekali.
Dari situlah awal mula Prabu Kuncoro jatuh cinta kepada Rafida. Ia menilai Rafida gadis sederhana , cerdas dan punya komitmen. Tak sulit bagi Prabu untuk mendekati Rafida. Cinta pun berbalas. Tapi masalah menjadi rumit saat R.A Sarmini masih belum mau memberikan restu atas hubungan mereka. Alasannya Rafida hanyalah pekerja, pendidikan hanya SMA juga bukan dari kalangan ningrat.
"Mas Prabu mungkin sebaiknya kita akhiri saja hubungan kita," pinta Rafida suatu hari kepada Prabu. Tapi dengan keras Prabu menolak permintaan Rafida
" Tidak Rafida, ibuku memang melahirkanku, tapi aku juga punya hak untuk masa depannku, dengan siapa aku menikah itu urusanku, ibuku sudah mengenalmu dengan baik, hanya rasa gengsi saja beliau menolakmu," kata Prabu tegas.
Prabu bersikeras melamar dan menikahi Rafida. Meski konsekuensi yang diterima, ia harus keluar dari rumah serta tidak mendapat harta. R.A Sarmini merasa jengah, ia besarkan Prabu sendirian dan kini meninggalknanya. R.A Sarmini sering merenung dekat meja marmer oval favoritnya. Meja yang berdiameter 150 cm dan dilapisi marmer kualitas nomer satu. Di meja itu ia betah berlama-lama duduk sambil mengingat saat makan dan bercakap dengan putra tunggalnya. Meja oval yang dulu sering digunakan saat berdiskusi dengan almarhum suaminya. Kini meja itu seolah menjadi temannya bercakap kala sendiri.
Pandu bekerja di sebuah jasa kontruksi. Lima tahun kemudian keluarga kecil itu mampu membeli rumah sederhana yang nyaman. Hubungan Prabu dan R.A Sarmini berangsur mencair meski jarang sekali bertemu. Hingga suati hari R.A Sarmini sakit keras. Seorang karyawan memberitahu Prabu melalui telepon.
"Ibuku sakit, aku harus menjenguknya," kata Prabu. Rafida mengangguk dengan wajah penuh kekhawatiran. Mereka sepakat akan pergi ke rumah sakit, tempat RA Sarmini dirawat. Prabu membawa Rafida dan kedua anaknya Onay dan Dani menemui ibunya. Di ujung pertemuan itu, RA Sarmini meminta keluarga kecil itu pindah ke rumahnya. Rafida hanya menjawab dengan senyuman.
"Ibu ada telepon dari Eyang," teriak Dani berlari menghampiri sambil memberikan handphonenya. Seketika Rafida tersadar dari lamunannya. Ia segera memberi salam pada penelepon.
"Fida, jadi kapan kalian mau pindah kesini, apa perlu aku suruh orang untuk bantu mindahin barang- barang kalian" terdengar suara nyaring R.A Sarmini mantan bosnya sekaligus mertuannya.
"Eh iya ibu, saya usahakan minggu ini,"jawab Rafida gugup. Anak dan ibu sama-sama keras keluh Rafida dalam hati. Kalau ibu mertua tidak dituruti, bisa-bisa ia akan tinggal di rumah kecil ini , guman Rafida.
"Horee..kita akan pindah ke rumah eyang, aku bisa main sepuasnya," kata Onay kegirangan.
Setelah sekian lama mereka menikah baru sekarang Prabu kembali ke rumah besarnya. Tak terkira bahagianya R.A Sarmini melihat dua bocah lucu, cucunya. Kelima orang itu mengelilingi meja oval R.A Sarmini. Berbagai makanan telah terhidang diatasnya. Terjadi perbincangan hangat serta canda mereka berlima. Meja Oval itu menjadi saksi dua keluarga yang pecah utuh kembali.