Move On

 

 

 

 Move On

Oleh :Lilik Herawati

            Aku membalikkan badan, mengganti posisi tidurku. Uuuuuh... badanku terasa pegal semua. Kegiatan outbond kemarin masih menyisakan derita sakit di punggung dan betisku.  Hingga selepas sholat subuh aku memilih tidur lagi. Kulihat jam weker di meja rias menunjukkan pukul  08.00 WIB. Ya ampun bisa perang ini sama pak Handi dosen pengujiku. Aku segera bangun lalu menyambar handuk dan berlari ke kamar mandi. Biasanya aku membutuhkan waktu tiga puluh menit di kamar mandi,untuk pagi ini asal celup dan pake parfum cukuplah daripada terlambat. Yang lebih membuatku gelisah motorku lagi ngadat, sebenarnya kampusku dekat bisa ditempuh dengan jalan kaki.Tapi saat emergensi kayak ini mending naik ojek, yang tiap hari mangkal di ujung gang.

           “Bang ke kampus,” kataku kepada bang Tohir. Ia segera menstater sepeda motornya.

           “Bisa lebih kencang ,Bang,” kataku .

           “Tuh neng kampusnya sudah kelihatan,bisa terlewat kalo kecepetan,”

 Bang Tohir menepikan sepeda motornya, aku turun lalu berlari ke pintu gerbang kampus. Duh sudah terlambat lima menit, semoga saja pak Handi punya hati, membiarkan aku masuk.

 “Mbak hoi..mbak..tin tiiin “. Seorang laki-laki dengan sepeda motor mengikutiku dari belakang. Aku berhenti

 “Ada apa bang?” tanyaku tak sabar.

 “Mbak ongkosnya belum bayar,” kata Bang Tohir. Oh my God, aku mengambil uang dari dompet dan menyodorkan kepada bang Tohir.

 “Maaf ya bang, lupa,” teriakku.

Aku menuju ruang kelas tapi kosong. Hem apa presentasi dilakukan di ruang lain? Kubaca agenda dari Asti,teman sekelasku yang dikirim ke handphoneku dua hari yang lalu, tapi gak ada yang salah. Aku melangkah keluar mencari teman yang mendapat jadwal presentasi micro teaching hari ini.

 “May sini!” aku menoleh itu suara Asti.

”Beruntung banget jadi kau May,”

             “Maksudmu ?” tanyaku bloon .

            “Presentasi ditunda nanti pukul 09.30 WIB ,” kata Asti.

            “Yah aku pikir bakal kena semprot, kita masih punya waktu 40 menit,malas pulang ke kantin yuk As,” ajakku.  

          “Ok”. Kami menuju kantin kampus.

           “May,”

            “Hem,”

            “Tahu nggak sekarang popularitas Dion digeser, ada idola baru,”

             “ Oya,” aku menanggapi santai.

             “Jangan terlalu cuek dong May,”

             “Aku gak cuek Asti,cuman santai aja,”  jawabku sambil menikmati tiap sendok bubur ayam yang masuk ke mulutku.

           “Masih teringat Fandi ya, biarkan dia tenang May,aku yakin ia juga ingin melihat kau bahagia,”

           “Ok, trus siapa tadi idola barunya?” kataku mengalihkan pembicaraan. Dan gosip terbarupun meluncur deras dari bibir mungil Asti. Sementara anganku tenggelam pada satu nama Reza Afandi. Ya, Fandi nama itu sulit aku hapus dari ingatanku. Laki-laki yang sempat beberapa bulan mengisi hari-hariku. Kami merasa cocok karena punya hobi yang sama, mencintai alam. Sayang saat pendakian di Semeru satu tahun yang lalu, hipotermia sadis itu merenggut nyawanya. Aku sulit mempercayai kejadian itu karena pagi hari melalui handphone ia berjanji akan membawakan hasil jepretannya di Puncak B 29 dan Ranu Kumbolo, sebagai hiasan mading bagi tim pecinta alam kampus. Bahkan sampai sekarang kata kata itu masih terngiang di telingaku. Kuhembuskan nafas perlahan untuk mengurangi beban di hatiku.

            “Ayolah May ..santai itu kalau kau move on, sadarlah sebenarnya kau menarik              kok,”

           “Well kau memang sohib yang paling jujur As terus kenapa?,” aku bertanya asal.

           “ Huh dasar geblek dandan sedikit kenapa sih,”. Asti mulai mengoceh dan memprotes penampilanku yang berubah setelah kehilangan Fandi. Asti melihat arloji di tangannya .

           ”Tinggal sepuluh menit nih, ke kelas yuk,sekalian persiapan, kamu presentasi setelah Andin kan?”ajak Asti. Aku mengangguk setuju.

Pak Handi memasuki kelas bersama seorang laki-laki “ Assalamu alaikum dan selamat siang,” suara pak Handi menggema memenuhi ruangan. Beliau memperkenalkan Dimas sebagai asisten dosen. Asti dan teman-temanku saling berbisik .

”Itu Dimas yang aku ceritakan tadi,” bisik Asti ke telingaku. Aku melihat dengan sudut mataku. Aha bukankah aku pernah melihatnya tapi dimana ya?. Hem aku jadi teringat, Dimas hadir sebentar saat pembukaan outbond dua hari yang lalu .Sekarang aku bisa melihat dengan jelas, orangnya lumayan enak dipandang.

 “Baik sesuai jadwal yang sudah saya berikan, presentasi silahkan dimulai,” kata pak Handi. Andin baru saja mengakhiri presentasinya.

”Saudari Damayanti,” pak Handi memanggilku. Aku maju ke depan mempresentasikan PTK tentang bangun ruang. Ah... lega rasanya, semua berjalan lancar.

                                                ***

Dari beberapa teman aku tahu bahwa Dimas sedang mengambil program pasca sarjana di kampusku. Ia juga menjadi asisten dosen di sini. Hampir setiap hari Asti membawa berita tentang Dimas hingga aku curiga.

“ As kayaknya kamu lagi jatuh cinta deh sama Dimas,trus Pandu mau dikemanain kau pacarin juga, rakus amat,” kataku menegurnya

         “Ini untuk kau May, Dimas tu baik, terus kalian punya hobi yang sama, bener kau gak tertarik?” sergah Asti lalu cemberut bak jeruk purut.

        “Ya ampun Asti gak perlu seserius ini, oke deh aku terima saranmu,” kataku yang membuat Asti tersenyum dan mengangkat kedua tangannya ke langit. Handphoneku berdering

       “May nanti malam jam tujuh tepat rapat di rumah Mira,bisa kan?” kata Arif mahasiswa hukum ,anggota pecinta alam sepertiku.

       ”Motorku di bengkel, aku bisa nebeng kan Rif ?” kataku merayu.

       “Iya nanti kujemput,” jawab Arif dari seberang, aku menutup telepon.

    “Makanya May kalau kau punya pacar kan enak kemana-mana ada yang anterin,” kata Asti

     “Kan ada bang Tohir,dia mau kok antar aku kemana aja,” ledekku.

Pukul tujuh kurang lima menit Arif sudah berdiri di depan pagar, segera kami meluncur ke rumah Mira. Aku tidak menyangka Dimas juga ada disitu. Aku bingung mau memulai bicara dengannya.

 “ Aku suka dengan ulasan –ulasan kamu di mading kampus ,” kata Dimas tiba-tiba. Aku tersenyum, perhatian juga dia dengan kegiatan pecinta alam di kampus. Dimas dan teman-temanya membuka usaha kursus profesional panjat tebing. Kini aku mulai mengerti mengapa Dimas terlibat pada kegiatan kami. Minggu depan kami akan melakukan bakti sosial yaitu gerakkan peneneman seribu pohon di Gunung Putri dibantu TNI setempat.

                                                            ***

Pelan – pelan tanpa aku sadari aku merasa betah sekali berbincang dengan Dimas. Ia sangat paham tentang kegiatan kami. Aku banyak mendapat ilmu baru darinya, demikian juga Dimas senang berdiskusi denganku yaa setidaknya itulah yang aku rasakan. Rasanya hari-hariku lebih indah saat bertemu Dimas. Wow apa aku jatuh cinta lagi ya?

“May tolong buatkan laporan untuk tugasku bisa kan?” kata Dimas saat  bertemu aku dan Asti.

          “Boleh,” kataku riang.

          “May kalian sudah jadiankah ?” tanya Asti setelah Dimas berlalu. Aku hanya tersenyum sambil mengangkat alis.

         “Belum...kami memang sering berdiskusi tentang banyak hal,”jawabku.

         “Terus ini apa?”

          “Dimas minta tolong aja,”

          “Aku lihat Dimas sering minta tolong sama kamu,” kata Asti ketus.

          “ Iya sih,” jawabku santai.

          “May jangan terlalu baik, nanti kecewa lo,”

          “Ini kan saran kau As, gimana sih,” hem Asti kok jadi aneh tapi aku malas memikirkannya.

           “Ya tapi,kamu jangan mau dong dimanfaatin,aku gak tahu kalo Dimas seperti itu,” kata Asti ragu.

           “Maksudmu ...ah sudahlah tenang aja Asti,” kataku sambil tersenyum. Kami memasuki ruang perpustakaan.Kuedarkan pandanganku menyapu buku yang berjajar rapi di atas rak. Akhirnya buku yang kucari,kutemukan. Setelah mengambil buku kamipun tenggelam dalam bacaan. Aku merasa aneh dengan sikap Asti, akhir-akhir ini ia malas sekali kalau aku ajak berbincang  tentang Dimas.

”May kau jadi panitia pameran?” kata Asti sambil menunjukkan poster pekan pameran yang akan dikuti semua fakultas,yang tertempeldi tembok .

“Nggak ,tahun ini anak ekonomi yang jadi panitia,” kataku lalu kembali membaca.

                                                                        ***

Malam ini pembukaan pameran di gedung serba guna kampus, aku ingin sekali kesana. Aku mencoba menghubungi Dimas agar mau menemaniku tapi gak bisa. Aku menghubungi Asti . Tuut...tuut...... terdengar nada sibuk dari seberang. Aku coba lagi

 “Asti temani aku ke pameran yuk,” pintaku

“Aduh.... aku gak bisa sekarang,” jawab Asti.

           “Kamu dimana As , aku ke rumahmu ya?”

            “Maaf, aku sibuk banget nih di rumah Mira ,”. Mira adalah saudara sepupu Asti. Aku mencoba mengirim chat ke Arif. Duh.. kemana juga mahluk satu ini?, lama banget balas chat di wa. Akhirnya aku putuskan meluncur ke rumah Mira. Aku akan paksa Asti menemaniku ke pameran, seperti yang sering ia lakukan padaku. Tapi seperti disambar geledek ,aku melihat Dimas sedang di sana. Ini acara keluarga, ya Tuhaan Dimas bertunangan dengan Mira. Aku mundur dan berbalik arah. Malu ,marah campur seperti adonan di benakku. Panggilan Asti tidak aku gubris sama sekali. Asti ...Asti mengapa kamu tidak memberitahu hal yang sebenarnya . Sepeda motor kularikan menuju tempat pameran. Tapi aku urungkan untuk masuk, setelah melihat berjubelnya pengunjung dihari pertama pembukaan. Aku memilih duduk di kedai es krim di seberang jalan kampusku.

“Bisa kering bunganya kalo dipelototin terus!” suara Arif mengagetkanku. Aku tersenyum kecut .

“Kok kamu tahu aku disini?” tanyaku.  Arif  duduk di depanku sambil menunjukkan chat wa di handphonenya. Aku mengaduk es krim dan mulai menyendoknya, berharap mampu mendinginkan hatiku dan pikiranku. Arif menatapku, kemudian meletakkan segebok tisu yang belum dibuka. Ia menyodorkannya perlahan.

”Menangislah May...kau berhak melakukannya,” kata Arif pelan. Air mata yang sedari tadi  kutahan,kini tumpah di depan Arif, teman yang paling mengerti aku. Aku tidak peduli dengan orang- orang yang memperhatikan kami. Kejadian ini hampir sama saat Fandi dimakamkan. Setelah keluarga Fandi pergi, aku menangis keras di pemakaman ditemani Arif. Aku mulai menguasai emosiku.

“Kau mau eskrim Rif?”. Aku melanjutkan menyendokkan eskrim kembali. Arif tersenyum melihatku.

“Kau cepat sekali ya melupakan masalah,”

             “Maksudmu ,aku gak boleh makan eskrimya?”

            “Ha ha ha itulah yang aku suka dari kamu May,setelah jatuh ,kau segera bangkit lagi,”

            “Sebenarnya aku rapuh,aku tak sekuat yang kamu kira Rif,aku hanya berusaha melewatinya,” kataku pelan. Angin berhembus perlahan terasa dingin di wajahku.       Pengunjung kedai es krin  berangsur berkurang. Kami masih duduk terdiam .

           ”Apa kau mau menyalahkan Asti ?” tanya Arif memecah kesunyian. Sejujurnya dalam hati aku mengatakan“ya”Astilah yang harus disalahkan tapi aku menggeleng.

           “Aku tidak ingin  menyalahkan siapapun Rif, aku butuh waktu dan teman untuk melaluinya, sayangnya kenapa harus Asti?” kataku tertahan.

          “Aku akan menemanimu,” kata Arif pasti. Aku melihat Arif, kulihat sebuah danau di matanya yang selalu siap memberiku tempat untuk berlari. Mengapa aku baru menyadari setelah sekian lama mengenalmu Arif, ternyata orang yang kucari itu adalah kau. Aku mengangguk perlahan.

  

                       

                       

 

 

 

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama