Tanpa judul

 Ramadhan selalu ada cerita


Bulan ramadan bagiku selalu istimewa. Bulan yang penuh makna dalam kehidupan.  Aku  mengenal atau lebih tepatnya dikenalkan dengan bulan ramadan adalah sejak dini. Kami adalah keluaga besar. ayah -ibu dan delapan anak tinggal di rumah yang sederhana namun penuh kehangatan.

Di sebelah rumah kami, sekitar 25 meter jaraknya berdiri sebuah masjid.Pada hari biasa masjid  selalu penuh saat sholat subuh, magrib  isya serta hari Jumat. Tetapi pada bulan ramadan. Siang hingga malam  Masjid tidak pernah sepi dari jamaah. 

Pada usia tujuh tahun atau kelas satu SD ibu menjelaskan tentang puasa dan beliau mengajarkan cara menjalaninya. Saat hari pertama makan sahur semua saudara duduk di tikar untuk makan bersama . Sebakul nasi penuh dengan lauk sederhana di depan kami. Satu-persatu saudarku mengambil nasi san launya . Kami makan sambil menahan kantuk. Saat ayah memimpin doa , perlahan kami mengikutinya. Sebagai anak bungsu aku hanya menurut saja. Pesan ibu kepadaku boleh puasa setengah hari sebagai latihan puasa.

Awal puasa sekolah libur, jadi aku di rumah saja.  Menjelang pukul sepuluh pagi perutku terasa perih . Aku meringis menahan sakit.  Bolak- balik ke kamar mandi , mengguyur muka agar tidak lemas. Melihat aku lemas dan menahan sakit, ibu menyuruhku minum.

Pada hari ke-tiga aku hampir mencapai puasa penuh. Menjelang pukul lima sore, kami kedatangan tamu. Dia adik ibu. Tante Nur namanya. Beliau membawa oleh-oleh yang banyak. Salah satunya semangka. Melihat semangka aku tak kuat menahanya. Meski ibu membujuk untuk menahan waktu tinggal sebentar lagi. Aku menangis keras. Akhirnya ibu memberiku sepotong semangka dengan caratan hari selanjutnya aku puasa penuh .


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama