Jadilah Temanku Fika

 





Jadilah  Temanku  Fika


Hari masih pagi. Jam di meja belajar menunjukkan pukul 05.30 pagi. Tiba-tiba “duaaarrr!!” terdengar ledakan keras dari luar rumah. Aku segera bangun dan melipat selimut lalu berlari keluar rumah. Banyak orang yang berlalu- lalang membawa ember berisi air.”Kebakaran-kenbakaran !” teriak para tetanggaku. Aku melihat ada asap  dari sebelah sana, sekitar lima rumah dari rumahku. “Ha “ bukankah disitu rumah Fika ,adik kelasku. Bergegas aku mencari ayah dan ibu di setiap ruangan rumahku. Aku akan memberitahu mereka tapi aku tidak menemukan ayah dan ibuku. Kuputuskan untuk ke rumah Fika. Ternyata benar ayah ada di sana. Suasana ramai sekali ,para tetanggaku memadamkan api.  Ayahku juga ikut membantu memadamkan api dan menyelamatkan barang dari kebakaran.

 “Dini jangan dekat- dekat ,bahayateriak  ayah mengingatkanku.

 Kata ayah  kebakaran dimulai  saat tante Mira menyalakan lampu dapur ,tiba-tiba tabung gas meledak ,tante Mira berbalik berusaha menutup pintu dapur tapi punggung dan lehernya terbakar . Fika dan ayahnya selamat karena masih di dalam kamar. Nampak  Fika  menangis dipelukan ayahnya. Sekarang api benar-benar padam. Sebagian tembok dapur runtuh, gentengnya banyak yang jatuh mengenai benda – benda di dapur hingga rusak, tidak   bisa dipakai lagi. Ayah berbicara kepada pak Rt dan beberapa tetanggaku. Para tetangga akan bergotong royong memperbaiki rumah Fika.

 “Ayo Dini kita pulang ,kamu kan harus ke sekolah dan ayah harus ke kantor,” .Aku mengangguk mengikuti ayahku pulang ke rumah. Sementara ibu mengantar tante Mira ke rumah sakit.

Di sekolah teman-temanku dan para guru ramai membicarakan kebakaran yang terjadi pagi tadi di rumah Fika. Kepala sekolah menghimbau kepada semua guru dan siswa untuk mengumpulkan sumbangan sukarela. Hasil sumbangan ini untuk meringankan beban Fika dan keluarganya.

Pulang dari sekolah aku lihat pintu rumahku masih tertutup rapat.Hem ibuku belum pulang dari rumah sakit. Tuhan semoga luka tante Mira tidak parah bisikku dalam hati. Aku ke warung Mbok Nah disebelah rumahku. Disitulah biasanya ayah atau ibuku menitipkan kunci rumah bila aku tidak bisa ikut dengan mereka. Seperti tadi pagi saat ayah dan aku berangkat kunci rumah aku titipkan Mbok Nah.

 “Makan dulu Dini ,ibumu belum datang ,” kata Mbok Nah sambil menyerahkan kunci rumahku.

” Tolong dibungkus aja ya Mbok ,Dini mau makan dirumah,”. Aku beranjak dari warung Mbok Nah dan melangkah ke rumahku.

Ting tong bel berbunyi ,aku membukakan pintu ,o ibuku datang bersama Fika.

“Dini , Fika akan tinggal dirumah kita sampai ibunya pulang dari rumah sakit,” kata ibu. Kakek dan nenek Fika berada di kota Solo, sedang ayah Fika bekerja sebagai sales. Oleh karena itu ibu membantu  tante Mira dengan menampung Fika  tinggal di rumah kami. Aku mengajak Fika ke kamarku. Aku senang karena Fika teman yang menyenangkan,berhari-hari kami selalu bermain bersama. Ibu berpesan kepadaku agar tidak membuat Fika sedih.

 Siang setelah pulang sekolah aku mengajak Fika bermain sepeda.

“Kak Dini aku duluan ya yang naik sepeda ,” pintanya. “Iya,”jawabku lalu bergabung dengan teman temanku yang juga bermain di halaman rumahku. Fika mengayuh sepeda dengan cepat ,ia lupa kalau ada polisi tidur di tikungan jalan .

“Pelankan sepedanya Fika ! teriakku dari kejauhan .Tapi “braaak,”  Fika terjatuh dari sepeda, lutut dan sikunya berdarah . Aku membantunya berdiri dan sepeda kami tuntun ke rumah.

“Aduh Dini, kan sudah ibu bilang hati-hati !” ibu marah besar ,aku kesal sekali kepada Fika karena tidak mau bercerita kejadian yang sebenarnya. Ibu juga tidak mau mendengarkan penjelasanku. Aku lari dengan membanting pintu kamar. Tidak adil masa ibu lebih membela Fika,bukannya aku anaknya sendiri.Aku coba meredakan kekesalan dengan membaca majalah.

“Kak Dini Fika minta maaf sudah membuat sepeda kakak rusak ,”kata Fika. Aku berpura-pura tidak mendengar dan tetap membaca majalah..

Beberapa hari aku jarang  bicara  dengan Fika juga kepada ibu. Kudengar tante Mira besok pagi  keluar dari rumah sakit. Horee tidak ada lagi mahkluk yang namanya Fika di rumahku.

 Pulang sekolah aku membaca catatan kecil di jendela “Dini kunci rumah ibu titipkan Mbok Nah ,ayah dan ibu takziah ,teman kantor ayah meninggal mungkin sampai malam, hati-hati di rumah, “ . Uh kenapa sekarang aku merasa kesepian setelah tidak ada Fika di rumah. Aku menceritakan semuanya ke Mbok Nah.

“Sudah sana ke rumah Fika, ajak dia main di rumahmu ,” nasehat Mbok Nah kepadaku. Aku malu-malu pergi ke rumah Fika.

“Fika main yuk ,” ajakku . Tante Mira dan om Putra, ayah Fika tersenyum melihat kami bermain 
bersama lagi .

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama