Yang Kubenci,Yang Terbaik

                                Dokumen google
 



Yang Kubenci,Yang Terbaik

 

Namaku Arif. Setiap hari aku diantar ayahku berangkat sekolah melewati perkampungan. Kalau boleh jujur, sumpah aku nggak mau melewati perkampungan itu. Banyak alasan yang membuat aku nggak suka melewatinya, antara lain rumah yang berdempetan nampak kumuh, selokan yang mampet dan menimbulkan bau tak sedap, jalan yang berlubang serta banyak anak kecil yang seenaknya saja berseliweran di jalan. Tapi aku harus bisa menerima kenyataan karena itu satu-satunya jalan yang terdekat ke sekolahku dan searah dengan tempat ayahku bekerja. Ayahku bekerja sebagai mandor pabrik sepatu yang letaknya sekitar lima ratus meter dari perkampungan kumuh itu.

Seperti biasa setelah sarapan di ruang makan bersama adikku dan ayah ibuku aku akan berangkat sekolah.

Ibu : “Ini bekalmu di sekolah, belajar yang pintar,perhatikan saat guru menjelaskan,” 

Aku : “Ya bu ,” jawabku singkat lalu menyusul ayahku yang sudah menungguku di teras depan.  Ayahku memasukkan lagi sepeda motornya.

Aku : “Lho kenapa kok dimasukkkan lagi Yah?”

Ayah :” Bannya bocor ,sudah kamu naik sepeda saja ya ,”

Aku : “Terus ayah naik apa?”

Ayah : “Ayah mau naik ojek,”

Aku segera  pergi ke garasi mengambil sepedaku dan mulai mengayuhnya. Ah ternyata asik juga pergi ke sekolah naik sepeda. Selama ini ibu melarangku kesekolah naik sepeda, alasanya kendaraan ramai dan takut terjadi sesuatu padaku. Teman-teman sekelasku banyak  juga yang naik sepeda, sayangnya tak satupun dari mereka yang rumahnya searah denganku.

            Pukul 12.30 bel pulang berbunyi. Aduh panas sekali aku mengambil sepeda dari tempat parkir sekolah. Dan pelan-pelan aku mulai mengayuh sepeda. Dari arah belakang aku mendengar suara Dion dan Riko ,mereka adalah kakak kelasku. Untung ada teman pulang pikirku. Dion dan Riko adalah tetanggaku rumahnya satu blok dari rumahku, tetapi kami jarang sekali bermain bersama. Mereka mendahuluiku, aku berusaha mengikuti dari belakang.

Dion : “Ayo lebih cepat kalau bisa!”  teriak Dion kepadaku .

Riko : “ Ha ha ha adu cepat dengan kami !”

Aku mulai memacu sepeda agar bisa mendahului mereka. Sekarang kami memasuki jalan perkampungan kumuh itu. Aku melihat mereka begitu lihai mencari jalan menghindari lubang-lubang di jalan itu. Aku ingin meniru mereka. Tapi “Gedubrak..” aku terjatuh 

selengkapnya bisa diunduh disini

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama