Putri Dewantari

 


 

 Putri Dewantari

Pada jaman dahulu di sebuah kerajaan tinggalah raja dan permaisuri.Kerajaan itu bernama Panjalu. Raja dan permaisuri mempunyai dua orang anak. Seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan .Yang laki-laki bernama pangeran Dewandanu sedangkan yang perempuan bernama putri Dewantari. Kedua putra raja ini mempunyai karakter yang sangat berbeda. Pangeran Dewandanu dikenal sebagai pangeran yang rendah hati dan santun kepada semua orang, sedangkan putri Dewantari sebaliknya,ia mempunyai sifat yang sombong dan mudah sekali marah. Sehingga banyak pejabat,punggawa dan dayang istana yang secara diam-diam tidak menyukai putri Dewantari.

Kedua putra raja itu kini beranjak remaja. Raja dan ratu sangat prihatin melihat sikap putri Dewantari. Permaisuri khawatir putri Dewantari bersikap buruk hingga dewasa. Suatu hari permaisuri mengeluh kepada raja.

Permaisuri:”Kanda prabu sedih sekali melihat sikap Dewantari kian hari kian jadi,saya khawatir bagaimana kelak  jika dia dewasa’’

Raja :”Baiklah dinda kita akan mengirim dia ke padepokan dan guru yang tepat ”.

Raja : ’’Punggawa tolong panggilkan putriku “

Punggawa kerajaan segera menuju halaman istana, menghampiri putri Dewantari yang sedang asik mengelus-elus si Perak, kuda kesayanganya .

Punggawa: ”Putri dipanggil paduka Raja mohon segera menghadap,”. Putri Dewantari memasuki istana diikuti punggawa di belakangnya.

Putri Dewantari:”Ayahanda memanggilku ?”.

Raja:”Iya begini, ayah dan ibu sudah sepakat mengirimmu untuk berguru ke Dewi Asih, disana pendidikanya terkenal bagus, engkau akan mendapat banyak ilmu dan ketrampilan, bagaimana menurutmu?”.

Putri Dewantari:”Tidak mau ayahanda ,aku tidak mau !”

Putri Dewantari marah sambil berlari keluar istana dan menaiki si Perak. Putri Dewantari memacu kudanya dengan kencang. Kuda berlari keluar jauh dari istana.

Sesampai di sebuah desa ia melihat seorang laki-laki tua sedang minum  di pinggir jalan.

Putri Dewantari :”Hai pak tua aku minta minum !

Pak tua : ”Oh maaf tinggal sedikit ,ini tidak cukup…coba di dekat sini ada warung belilah di situ “.

Putri Dewantari :”Apa katamu kau tahu siapa aku ..huh ! “

 Putri Dewantari memacu kembali kudanya  dan mengepulkan debu meninggalkan pak tua tadi .Orang laki-laki tua itu adalah tabib terkenal. Ia sedang berjalan-jalan di sekitar desa mencari berapa tanaman untuk dibuat ramuan obat.

 Putri Dewantari tidak mengetahui kalau jalan di desa itu banyak batu dan tikungan. Saat sampai di sebuah tikungan kudanya terantuk batu. Putri Dewantari jatuh dengan keras dari kudannya. Penduduk desa yang melihat kejadian itu, segera memberikan pertolongan seadannya.

Putri Dewantari dibawa ke rumah kepala desa. Setelah menunggu beberapa saat kereta kerajaan datang menjemputnya. Putri dibawa ke istana dalam keadaan pingsan. Suasana di istana menjadi panik. Raja memanggil beberapa tabib untuk menyembuhkan sang putri.Sayang tak satu pun dari tabib itu yang mampu membuat putri Dewantari sadar dari pingsannya .

Tabib sakti  : “Paduka raja tidak usah bersedih Putri Dewantari  hanya tertidur, mudah-mudahan  beliau segera sadar ,setelah kami periksa tidak ada luka serius pada putri Dewantari mohon paduka selalu berdoa,”. Kemudian tabib saktipun berpamitan  pergi .

Di dalam tidurnya putri Dewantari bermimpi .Ia merasa heran, kemana semua baju dan perhiasanku ? pikirnya karena yang dikenakan hanya baju lusuh dan sederhana bahkan ia tidak tahu kalau sekarang berada di rumah Ni Gendhis ,saudagar kaya raya. Ia keluar dari kamarnya .

 Ni Gendhis: “Hei pemalas ayo cepat bantu kami ,turunkan barang-barang ini dan bawa ke gudang!”  Putri Dewantari: “Aku dimana dan siapa kamu?.

Ni gendhis:”Jangan  berpura-pura ,tentu saja kau Margayu, sudah dua  hari kamu bekerja disini apa kamu lupa

Ni Gendhis : “Ayo bereskan barang dagangan ini cepat !”.

            Oh jadi namaku Margayu aku bekerja di rumah Ni Gendhis, sebagai pembantu, malang sekali nasibku pikir Putri Dewantari . Selama ini dia tidak pernah merasakan bagaimana rasannya menjadi orang yang miskin.  Ia selalu berlaku kasar kepada semua dayang istana dan suka membuang makanan yang disajikan bila tidak sesuai keinginanya. Sekarang Putri Dewantari benar –benar menyesali perbuatannya . Hampir dua bulan putri Dewantari bekerja di rumah Ni Gendhis.  Setiap malam ia menangis dan memohon kepada Yang Kuasa ,supaya dia bisa kembali kepada ayah dan ibunya.

Ni Gendhis : ”Margayu…Margayu ! cepat bersihkan rumah sebentar lagi akan ada tamu !”

Putri Dewantari :“Baik Ni,”

Segera putri Dewantari menyapu  rumah dan pekarangan Ni Gendis yang besar dan luas. Kalau tidak ,pasti Ni Gendhis akan marah sekali.  Setelah bekerja ia merasa sangat kelelahah dan lapar. Putri Dewantari  masuk ke dalam rumah Ni Gendhis . Di ruang makan ia melihat banyak sekali makanan, buah-buahan dan minuman yang lezat. Putri Dewantari tak kuasa menahan laparnya. Ia mengambil  beberapa makanan dan menyantapnya di belakang pintu. Pembantu Ni Gendhis, yang lain mengetahui ulahnya. Pembantu itu melaporkannya kepada Ni Gendhis. Mendengar laporan dari pembantunya Ni Gendhis sangat marah. Ia mengambil sebatang kayu untuk memberi hukuman. Putri Dewantari sangat ketakutan,ia berlari sekuat tenaga keluar dari rumah Ni Gendhis .Ia berlari dan terus berlari , hingga masuk ke hutan. Ia berlari sambil menoleh ke belakang, melihat apakah para pembantu Ni Gendhis masih mengejarnya. Tapi tiba-tiba braak.. putri menabrak sebatang pohon dan semua berubah menjadi hitam.

Begitu sadar putri Dewantari melihat ayah ,ibu, dan pangeran  Dewandanu kakaknya duduk di samping tempat tidurnya .

Putri Dewantari :”Ibu, maafkan  semua perbuatan Tari selama ini ...saya sangat menyesal,”

 teriak putri Dewantari menangis di pelukan ibunya . Ia  bercerita tentang semua hal yang telah dialaminya,ia menangis terisak-isak.

 Permaisuri:.”Puji syukur kepada Yang Maha Kuasa kanda, putri kita sudah sadar “

Raja  sangat senang  putri Dewantari sudah siuman dari tidurnya. Terlebih sikapnya menjadi sangat baik Kabar kesembuhan putri Dewantari pun cepat tersebar ke seluruh penjuru kerajaan

Raja :” Aku akan mengadakan pesta yang meriah untuk merayakan kesembuhan putri Dewantari,”

 Putri Dewantari :”Mohon maaf ayahanda saya tidak setuju diadakan pesta besar, itu hanya akan menghamburkan uang saja “

Raja menjadi heran dan berkata “Bukankah selama ini kamu sangat menyukai acara pesta anaku ?         Putri Dewantari :”Itu dulu ayahanda ,sekarang saya sadar ,mana yang baik dan mana yang buruk, kalau boleh saya usul, sebaiknya biaya pesta kita belikan bahan pangan dan saya ingin membagikannya kepada penduduk yang kekurangan “ .Raja dan permaisuri pun setuju. Maka berangkatlah beberapa kereta kerajaan untuk membagikan bahan makanan kepada penduduk miskin di tiap-tiap desa. Rakyat sangat senang dan menyambut bahagia atas pemberian putri Dewantari. Dan sejak saat itu putri Dewantari berubah menjadi putri yang baik hati.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                     

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama