Singo Ulungi Bondowoso

Singo Ulung Bondowoso


Disusun oleh : Lilik Herawati,S.Pd


 Assalamualaikum wr..wb

Pertama – tama mari kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, taufiq dan hidayahNya. Shalawat dan salam semoga senantiasa kita haturkan kepada Nabi Besar ,Muhammad SAW, yang telah membimbing dan menuntun kita dari kegelapan menuju jalan terang – benderang.

Kepada hadirin yang terhormat,

Perkenankan saya akan menyampaikan pidato yang berjudul "Cintai Budaya Sendiri"

Wa' can macanan singo ulung ca'loncaan ninge tanian 

Duh badane raje engak gunung ajer jejer sak kan caan (macana)

Hadirin sekalian,

Budaya menunjukkan tingkat kemajuan peradaban suatu masyarakat. Diawali zaman prasejarah, manusia terus berkembang pola hidup hingga membentuk sebuah budaya. Budaya di suaru daerah sangat terpengaruh dengan lingkungannya. Seperti pendapat ahli Bronislaw Malinowski (1884-11942) mendefinisikan :  kebudayaan sebagai penyelesaian manusia terhadap lingkungan hidupnya serta usaha untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya sesuai dengan tradisi yang terbaik. (dikutip dari Detik.com). Kabupaten Bondowoso mempunyai beragam budaya. Salah satu budaya yang terus digiatkan dan dipelajari adalah Tari Singo Ulung. Tari Singo Ulung adalah sebuah tari dari Bondowoso. Tari Singo Ulung bermula dari legenda atau asal-usul  suatu tempat. Dikisahkan seorang Kiai Singo Wulu dan istrinya mengembara untuk mensyiarkan agama. Hingga suatu saat mereka berhenti di suatu daerah. Kiai Singo Wulu dan Istrinya sedang beristirahat di bawah pohon Belimbing yang rindang. Salah satu penduduk daerah itu, yang bernama Jasiman selalu mengawasi mereka dari kejauhan. . Ia tidak menyukai kehadiran Kiai Singo Wulu dan istrinya. Jasiman mendatangi Kiai Singo Wulu yang sedang beristirahat. Jasiman mengungkapkan ketidak sukaannya. Hingga terjadilah pereselisihan yang berlanjut perkelahian. Jasiman dan Kiai Singo Wulu sama-sama mempunyai ilmu kanuragan yang mumpuni. Hingga Kiai Singo Wulu mampu merubah diri menjadi seekor harimau putih.  Perkelahian bertambah sengit. Jasiman pun tak mampu melawan. Dan perkelahian tersebut berakhir, saat Jasiman takluk ditangan  Kiai Singo Wulu. Kiai Singo Wulu memaafkan , bahkan menerima Jasiman sebagai santrinya. Tempat dimana mereka bertarung, sampai sekarang disebut desa Belimbing. Sementara itu perkelahian diantara Kiai Singo Wulu dan Jasiman menginspirasi menjadi sebuah Tarian. Yaitu Tari Singo Ulung.  Saat ini penari Tari Singo Ulung terdiri dari : satu atau dua orang yang berkostum singa , dua orang bersenjata rotan dan diiringi tabuhan/musik dari bambu . Tarian ini sangat terkenal, yang  menjadi agenda wisata di Kabupaten Bondowoso. Tarian Singo Ulung juga sering ditampilkan saat acara-acara penting, misalnya pawai budaya, penyambutan tamu dari daerah lain,  pembukaan acara dan lain sebagainya. Bahkan terdapat kelompok yang berkeliling untuk memperkenalkan tarian ini dari desa ke desa . 

Sebagai pemuda mari kita juga ikut menunjukkan rasa memiliki dan ikut menjaga budaya Kabupaten Bondowoso , khususnya tari Singo Ulung.  Caranya dengan  mempelajari atau setidaknya sering mempromosikan budaya daerah Bondowoso melalui media sosial yang ada.

Demikaia pidato saya, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Wasalamualaikum ..wr ..wb



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama